Captivated, will never be the same.

Berikut adalah sharing pengalaman iman dari Adi Indra yang mengikuti retret muda-mudi Stronger di Harrietville, Victoria pada bulan Desember 2011 lalu.

Tersentak saya dari lamunan panjang ketika klakson kereta VLine yang saya tumpangi berbunyi. Kereta telah tiba di Shepparton, sebuah kota di regional Victoria, 250km dari Melbourne. Terbersit sedikit rasa kekuatiran dan ketidakyakinan, perjalanan panjang saya belum berakhir, masih terbentang jarak lebih kurang 250km lagi yang harus ditempuh, untuk mencapai tujuan akhir, Harrietville.

Perjalanan saya kali ini saya anggap pilgrimage kecil untuk menghadiri sebuah weekend retreat muda-mudi, Stronger, yang merupakan inisiatif Diocese of Sandhurst Youth Ministry.

Drawcard saya dari retret ini adalah 2 imam yang ‘terkenal’ di kalangan anak muda, Fr Rob Galea (terima kasih untuk teman saya Nova yang sudah memperkenalkan saya pada Fr Rob!) dan Fr Chris Ryan MGL.

Saya tiba di Harrietville bersama 2 orang lainnya yang saya temui di train station. Tuhan memang bekerja dengan cara yang unik. Mereka memberanikan diri memanggil saya di train station karena saya memakai kaos World Youth Day dan membawa sleeping bag! Akhirnya kami berkenalan dan saya lega karena ada teman bicara selama 2.5 jam perjalanan dari Shepparton. Genaplah 16 jam total perjalanan saya dari Perth.

Sampai disana saya disambut dengan ramah oleh panitia dan Fr Rob sendiri.

“Welcome Adi! I guess Perth’s not too far from here, huh?” canda beliau.

Jetlag?

Session pun dimulai dengan perkenalan yang dilanjutkan dengan praise and worship. Saya agak struggling untuk berdiri tegak karena kelelahan perjalanan (dan mungkin juga jetlag? – red), apalagi bernyanyi dan bertepuk tangan.

Hari diakhiri dengan diskusi kelompok kecil yang disebut D-Groups (D = Discipleship (Kerasulan)). Kami pun mendapat tempat di chapel dimana Blessed Sacrament ditahtakan. Diskusi dan sharing kami pun dimulai dengan expectation kami masing-masing akan retret ini.

Benak saya sebenarnya masih merasa galau dan tidak jelas. Ada sebuah ganjalan yang saya tidak tahu apa sebabnya. Tapi, tiba-tiba saya pun terkenang dengan perkataan salah satu teman saya dari Melbourne, Dina Budiarto yang mengingatkan sebelum saya berangkat, “Di, yang penting cari Tuhan yah di retretnya!”

Saya pun akhirnya menulis ini sebagai harapan saya – walaupun benak saya belum yakin sepenuhnya – “untuk mencintai Yesus 110%”.

Malampun berakhir cukup awal untuk ukuran sebuah retret, 10.30 malam dan kami semua pun beristirahat.

Menjawab panggilan Kristus?

Cuaca dingin pun menyambut kami di pagi hari. Maklum, walaupun summer, Harrietville berada di rangkaian pegunungan Australian Alps. Mungkin kira-kira bisa diibaratkan seperti di Puncak, Jawa Barat.

Sampailah kami di sebuah session yang akhirnya menyentak saya. Fr Chris berkata, “Apakah kita sudah mengatakan ‘YA’ pada Tuhan? Mungkin belum.

“Kita hanya bisa mencintai Tuhan, karena Tuhanlah yang lebih dahulu mencintai kita. Apakah kita sudah membuka diri kita untuk Tuhan?”

Hari berlanjut dengan cepatnya, tapi benak saya masih memikirkan pernyataan Fr Chris di atas.

Sementara itu, kegiatan berlanjut dengan rekonsiliasi, perayaan Ekaristi, games (saya dengan mudahnya menjadi sasaran nerve guns para peserta lain…), dan akhirnya, makan malam.

“Take my life, I lay it down…”

Take my life, I lay it down. At the cross where I am found. All I have I give to You, oh God. – Arms Open Wide by Hillsong United.

Sampailah kami pada ‘puncak’ dari retret ini. Session diawali dengan praise and worship yang sungguh menyentuh saya. Banyak lagu yang benar-benar relevant dengan keadaan hati saya saat itu. Suasana pun bertambah khusuk dengan dimatikannya lampu utama hall, dan penerangan spotlight hanya tertuju pada sebuah salib besar.

Kami pun mengucapkan janji baptis sambil menghadap salib Yesus yang disorot itu. Momen tersebut benar-benar sungguh menggetarkan hati saya! Untuk pertama kalinya saya mengucapkan janji baptis dengan fokus penuh tanpa distraction. Luar biasa perasaan saya pada saat itu, tak dapat saya describe dengan kata-kata.

Selanjutnya kami pun didoakan secara individual oleh tim doa yang terdiri dari 2 orang. Saya awalnya skeptis dan bingung tentang apa yang ingin saya doakan. Begitu saya melangkahkan kaki, Tuhan menggerakan hati saya dan spontan saya mengucapkan keinginan saya agar Tuhan ‘mengambil alih’ total hidup saya supaya saya bisa mengikuti kehendak-Nya.

That’s it! Itulah ganjalan yang selama ini ada di hati saya. Saya belum membuka diri untuk Dia sepenuhnya, untuk menjalankan kehendak-Nya. Masih ada keraguan untuk mempercayakan hidup 100%, bahkan 110% pada Kristus. Seringkali kita merasa Tuhan tidak ada disana dan mulailah kita memilih jalan hidup kita sendiri dan cenderung ‘memaksa’.

Saya pun terisak menangis di hadapan salib Yesus yang terbentang. Di saat yang sama ada perasaan lega dan damai yang luar biasa, seperti orang yang baru dibaptis atau dilahirkan kembali.

Setelah sesi doa berakhir, praise and worship kembali dilanjutkan, lalu diteruskan dengan all-night adoration. Suasana sukacita namun khusuk pun terasa karena Yesus hadir sendiri dalam wujud Blessed Sacrament. Setiap peserta pun berpartisipasi dalam adorasi ini, walaupun ada yang mendapatkan slot jam 1-2 pagi, 2-3 pagi dan seterusnya.

Saatnya ‘turun gunung’

Keesokan paginya, saya merasa sangat segar dan damai. Puji Tuhan – dan anehnya – tidak ada rasa kantuk atau lelah. Saya pun bersyukur atas pengalaman iman yang sungguh luar biasa semalam. Akhirnya jelas mengapa saya terpanggil datang ke retret ini, Tuhan sendirilah yang memanggil saya dan kemudian mengubah saya.

Di sesi penutup tentang ‘kerasulan’, Fr Rob menyampaikan, “Tuhan memanggil kita tidak untuk menjadi individu yang biasa-biasa saja. Dia mempunyai tujuan hidup yang indah untuk kita, untuk menjadi rasul-Nya (disciples) yang luar biasa.

“Seperti kisah transfigurasi (bdk. Luk 9:28-36), murid-murid Yesus pun merasa nyaman berada dalam keadaan yang indah dan mulia bersama Yesus sampai-sampai Petrus pun menawarkan ingin mendirikan kemah. Sama seperti kita di retret ini, kita merasa bersukacita dan nyaman berada disini, tapi sebagai rasul-Nya, kita harus ‘turun gunung’ untuk menyampaikan kabar sukacita Kristus kepada dunia,” lanjutnya.

Fr Chris menambahkan, “Tuhan tidak menjanjikan hidup yang tenang tanpa hambatan, tapi Dia menjanjikan dia akan terus bersama kita, melewati tantangan hidup yang kita akan lalui, Christian life is a ‘wild ride’!

Stronger Retreat 2011 akhirnya resmi berakhir. Sadly, saya pun ‘terpaksa’ mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman ‘seperjuangan’ di retret, khususnya D-Group saya yang sudah menjadi sarana sharing iman yang luar biasa. Banyak teman baru yang saya dapatkan di retret ini, terlebih karena kita bersama mengalami suatu pengalaman iman yang mengubah hidup.

Saya masih harus satu malam menginap di Harrietville karena tidak adanya transportasi kembali ke Melbourne karena hari sudah larut. Esok harinya, saya akhirnya ‘turun gunung’ bersama Fr Rob yang berbaik hati bersedia mengantarkan saya ke train station. Kami pun sempat detour sejenak ke St Brendan’s Church, Shepparton, tempat beliau melayani.

Saya pun meninggalkan Shepparton menuju Melbourne Airport en route menuju Perth dengan sejuta perenungan.

“Ladies and gentlemen please have your seatbelt fastened as we begin our descend to Perth…”

Sebuah pesan dari awak kabin QF481 membuat saya terbangun dari lamunan panjang lagi, tetapi kali ini dengan senyum akan pengalaman di weekend yang baru saja berlalu, serta keyakinan dan harapan penuh. Tak terkira jumlah berkat yang Tuhan berikan kepada saya lewat kesempatan ini. God is so good!

Sesampainya di rumah, saya membuka kartu peserta yang saya dapatkan dari retret, yang saya belum sempat baca sebelumnya. Dan sungguh, Tuhan berbicara lagi lewat excerpt Kitab Suci yang tertera dibelakang kartu tersebut…

“…tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:13-14.

According to Blessed Pope John Paul II, “each of us is called to holiness!” Sebagai umat Katolik, kita semua mendapat panggilan suci di dalam Yesus sendiri! Marilah kita menjadi rasul-rasul-Nya selama peziarahan kita di dunia ini.

Tuhan memberkati,

Adi

Leave a Reply