Saya akan memulai percakapan kita pada kesempatan ini dengan mendengarkan kata-kata pengajaran Yesus mengenai pentingnya keheningan bagi kehidupan doa kita:
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:6-8)
“Mendengarkan Allah yang Berbicara”
Kerap kali terjadi, ketika orang mendengarkan kata-kata Yesus ini: “Jika engkau berdoa….janganlah kamu bertele-tele….karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:6), timbullah di dalam hatinya pertanyaan demikian: “kalau memang demikian, apakah doa masih diperlukan lagi?”.
Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita mengingat bahwa doa itu tak hanya berarti “meminta sesuatu”. Doa juga, pertama-tama dan terutama, adalah sebuah perjumpaan dengan seseorang, sebuah dialog dengan Allah yang hidup”. Doa itu sebuah komunikasi dengan seorang pribadi – “Allah!”. Bandingkan kata-kata St Teresa dari Avila, Doktor Doa Gereja ini: “Doa batin, menurut pendapatku adalah tak lain daripada percakapan akrab dua orang sahabat. Dan ini berarti sering tinggal bersama dengan dia yang kita tahu mencintai kita” (Kisah Hidup 8.5). Karena itu, doa tidak hanya menjadi kesempatan untuk “meminta” tetapi juga menjadi momen untuk menjalin hubungan agar relasi itu bertumbuh dan berkembang hingga ke tahap yang St Yohanes dari Salib, Doktor Hidup Mistik Gereja itu sebut “Persatuan yang mengubah” – “saya menjadi semakin menyerupai Allah”.
Kalau memang demikian bahwa “doa itu adalah sebuah dialog, sebuah komunikasi”, mengapa Yesus meminta kita untuk “jangan bertele-tele di dalam doa kita – di dalam komunikasi dan dialog itu?”. Saya berpikir ada satu hal lain yang mesti kita sadari dalam sebuah komunikasi dan dialog yaitu sikap “mendengarkan!”. Komunikasi itu tidak hanya berarti saya berbicara tetapi juga berarti saya mendengarkan! Jadi, dalam komunikasi selain ada tindakan “berbicara”, ada juga kegiatan “mendengarkan” meskipun tetaplah harus diingat bahwa komunikasi dengan Allah pertama-tama berarti saya mendengarkan Allah yang berbicara kepadaku – karena oleh doa, kita mau menjadi serupa dengan Dia – dalam doa kita mau menangkap kehendakNya agar ”Apa yang Engkau kehendaki saya kehendaki; dan apa yang tidak Engkau kehendaki, tidak saya kehendaki” (St Yohanes dari Salib, Nyala Cinta Yang Hidup, bait 1,no.36). Dalam konteks seperti inilah kita mengerti kata-kata Yesus ini: ”dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah”
Keheningan dalam Doa
Karena doa merupakan sebuah komunikasi dan dalam komunikasi itu mendengarkan Allah yang berbicara merupakan sesuatu yang hakiki dan menentukkan, maka betapa penting keheningan itu. Karena tidaklah mungkin kita mampu mendengarkan pihak lain dengan baik tanpa hening dan diam. Dengan demikian keheningan menjadi sebuah conditione sine qua non (syarat yang mesti ada) untuk mendengarkan. Selain itu kita juga memerlukan keheningan agar komunikasi atau doa kita muncul dari hati terdalam kita. Doa yang oleh keheningan menjadi sebuah doa yang muncul dari hati –sebuah doa hati- sangat menentukkan mutu dari doa kita. Ya, sebuah doa yang timbul dari relung terdalam batin kita akan membuat doa kita sungguh bermutu. Maka doa tidak boleh menjadi sekadar kata-kata indah yang terucapkan. Tetapi harus menjadi sebuah ungkapan dari batin terdalam sehingga komunikasi kita juga menjadi sebuah komunikasi dari hati ke hati.
Kita sungguh memerlukan keheningan itu karenanya kita mesti meninggalkan kebisingan lahiriah (termasuk kata-kata kita), kita perlu meninggalkan kebisingan batiniah kita (termasuk pikiran dan perasaan kita – ingat pikiran sungguh sangat dibutuhkan dalam doa. Bahkan Yohanes Klimakus, seorang pertapa terpelajar abad keenam mengatakan: keheningan pikiran adalah ibu dari doa), dan lebih jauh lagi kita mesti meninggalkan dosa-dosa kita karena “tanpa meninggalkan dosa-dosa kita” (kemurnian hati), kita susah untuk melakukan komunikasi dengan Allah dan mendengarkan Dia.
Tatkala situasi fisik hening, situasi batin hening, hati kita bebas dari berbagai cacat cela dan dosa, kita memasuki komunikasi dengan Allah dalam arti yang sesungguhnya. Kita mendengarkan Dia yang berbicara kepada kita dalam keheningan – dan jangan lupa: dalam keheningan itu juga kita mesti menanggapiNya. Karena “Allah berbicara dengan kita dalam keheningan dan hanya dalam keheningan itu saja kita dapat mendengarkan Allah” (St Yohanes dari Salib).
Memasuki Keheningan
Soalnya sekarang ialah bagaimana kita menciptakan keheningan itu? Ini adalah hal yang paling sukar tetapi merupakan sesuatu yang sangat menentukan dalam doa. Perlu diketahui bahwa keheningan itu tidak melulu kita pahami secara negatif – sejenak jeda di antara kata-kata kita, diam sesaat di antara percakapan kita. Tetapi juga dapat kita artikan secara positif sebagai sikap penuh perhatian, berjaga-jaga, waspada, dan terutama adalah sikap mendengarkan. Dalam tradisi timur, para Hesychast, yaitu orang yang telah mencapai hesychia, ketenangan atau keheningan batin, pertama-tama adalah orang yang mendengarkan. Dia mendengarkan suara doa di dalam hatinya, dan mengerti bahwa suara itu bukanlah suaranya sendiri tetapi suara Dia Yang Lain yang sedang berbicara di dalam diri batinnya.
Sebagaimana sebuah percakapan pada umumnya, doa adalah sebuah dialog, dan karena itu tujuannya tidaklah hanya untuk mengekspresikan diri sendiri tetapi juga untuk mendengarkan Pribadi Yang Lain itu. Dan karena itu ketenangan dan keheningan menjadi sungguh-sungguh penting.
Untuk mencapai keheningan dan ketenangan itu para rahib dahulu menarik diri dari perjumpaan dan percakapan dengan orang lain, memasuki padang gurun, menyembunyikan diri mereka di gunung dan di hutan. Di tempat-tempat inilah mereka mengalami keheningan yang mereka butuhkan dalam doa.
Pengalaman keheningan yang demikian memang merupakan sesuatu yang hakiki bagi setiap orang yang ingin belajar seni doa. Untuk mencapai pengalaman keheningan ini tentulah orang tidak perlu harus menarik diri ke padang gurun, menyembunyikan diri di gunung atau hutan. Meditasi Kristiani yang ditemukan kembali dan dimodifikasi oleh John Main, seorang rahib Benediktin asal Irlandia, merupakan cara sederhana untuk memasuki pengalaman keheningan. Meditasi Kristiani kemudian bagi kita menjadi tanggapan yang tepat atas kata-kata Tuhan: ““tutuplah pintumu dan berdoalah kepada BapaMu yang berada di tempat yang tersembunyi”.
Namun hendaklah kita ingat bahwa memasuki pengalaman keheningan itu tidaklah mudah. Tantangan yang selalu kita hadapi ialah bahwa kita selalu sibuk dan selalu melakukan segala sesuatu tergesa-gesa dan segala sesuatu itu kita anggap sama pentingnya: maka kita berkeyakinan bahwa bila terlalu banyak waktu yang kita pergunakan untuk berdoa, maka kita tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan hal-hal yang kita anggap penting itu.
Tiadanya ketertarikan dan minat pada kesunyian dan keheningan adalah salah satu penyakit yang paling umum dalam diri manusia modern. Bahkan banyak yang takut tinggal dalam kesunyian dan keheningan, berada sendirian atau mempunyai waktu longgar (luang): mereka merasa lebih cocok terus-menerus sibuk; mereka membutuhkan kata-kata, mereka membutuhkan aktivitas berpikir dan berimaginasi. Tetapi kehidupan di dalam Allah sesungguhnya dimulai ketika kata-kata dan pikiran kita menjadi hening, ketika perhatian akan dunia ini dialihkan, dan ketika sebuah tempat di dalam hati manusia dikosongkan untuk disi dan dipenuhi oleh Dia.
Bapa-bapa Gereja, mengikuti Yesus sendiri, menekankan bahwa doa haruslah sederhana dan wajar. Itu artinya banyaknya kata-kata yang dipergunakan dalam doa tidaklah penting. Sebab orang yang berdoa, menurut Yohanes Klimakus, bagaikan seorang anak yang sedang berbicara kepada orangtuanya: polos, apa adanya, wajar, tidak berbunga-bunga dalam berkata-kata.
“Hendaklah doa-doa itu sungguh sederhana…… Jangan berlebihan dalam kata-kata yang engkau gunakan ketika berdoa, sebab anak-anak yang polos dan tanpa banyak neko-neko sering mampu menggerakkan hati Bapa Surgawi. Janganlah bertele-tele dalam doamu, jangan-jangan pikiranmu diganggu karena mencari kata-kata. Satu kata saja cukup untuk menggerakkan hati Tuhan dan seorang yang berseru dengan penuh iman menyelamatkan seorang pencuri”.
- Meditasi Kristiani: Seni Memasuki Keheningan
Sebagaimana sudah dikatakan, untuk memasuki pengalaman keheningan, kita tidak perlu harus pergi ke padang gurun, mendaki gunung atau memasuki hutan. Kita hanya cukup: memasuki kamar batin kita dan berdoa kepada Bapa yang berdiam dalam ketersembunyian batin kita. Meditasi Kristiani adalah sebuah doa sederhana yang menghantar kita kepada pengalaman keheningan itu. John Main melukiskan hal ini dalam beberapa buku yang ia tulis untuk melukiskan berbagai aspek dari Meditasi Kristiani:
- Doa adalah ”mendengarkan”
“Sebagaimana telah saya katakan, berdoa bukanlah berbicara kepada Allah, tetapi mendengarkan Dia, hadir dalam hadiratNya. Kiranya ini adalah pemahaman yang sangat sederhana mengenai doa yang mendasari nasihat Yohanes Kasianus” (Word Into Silence/Jalan Menuju Keheningan, hal 40)
- Mendengarkan Membutuhkan Keheningan dan Keheningan Membutuhkan Meditasi
“Jika kita ingin berdoa, ingin mendengarkan, maka kita berusaha untuk sungguh tenang dan diam, dengan mengucapkan satu ayat pendek secara terus-menerus. Sebagaimana dikatakan juga oleh Cloud of Unknowing: kita harus berdoa dengan seluruh jiwa kita, tidak dalam banyaknya kata-kata tetapi dengan sedikit kata” (Word Into Silence/Jalan Menuju Keheningan, hal 40)
”Saya pikir, hal yang harus kita lakukan bukanlah menciptakan keheningan. Keheningan itu sudah ada di dalam diri batin kita. Yang kita perlukan sekarang adalah masuk ke dalamnya, menjadi sungguh-sungguh hening. Tujuan meditasi adalah membuat diri kita tenang dan hening sehingga keheningan hati itu muncul dan menguasai kita. Keheningan adalah bahasa Roh Kudus” (The Hunger for Depth and meaning – Learning Meditation with John Main, MedioMedia, Singapore 2008, hal 160)
- Metode Dasar Meditasi
John Main melihat bahwa untuk dapat bermeditasi dengan baik, orang harus menguasai metode dasar meditasi:
“Meditasi mungkin kedengarannya sesuatu yang baru dan tidak lazim. Baiklah saya mengulangi teknik dasar meditasi. Duduklah dengan nyaman dan rileks. Pastikan bahwa anda duduk tegak. Bernafaslah seperti biasa dan teratur. Tutuplah mata anda dan kemudian di dalam batin ulangi kata-doa yang telah anda pilih sebagai kata suci untuk meditasi anda” (hal 41)
“Agar kita dapat melihat manfaatnya (red: menghantar kita kepada relasi dengan Allah melalui pengalaman keheningan dan sebagainya), kita perlu bermeditasi dua kali sehari dan setiap hari tanpa mengenal hari libur. Waktu minimum untuk bermeditasi adalah duapuluh menit, waktu rata-rata adalah duapuluhlima atau tiga puluh menit. Sangat dianjurkan untuk bermeditasi pada tempat dan waktu yang sama setiap hari karena hal ini akan membuat meditasi menjadi irama kehidupan kita sama seperti irama denyut nadi. Hal yang terpenting yang perlu diingat tentang meditasi adalah kesetiaan untuk mengulangi mantra dalam seluruh waktu yang disisihkan untuk bermeditasi” (hal 44)
Sebagai sebuah seni, meditasi hanya menjadi subur dan berbuah, kalau dipraktekkan dengan tekun dan setia. Karena itu bertekunlah selalu mengucapkan mantramu, entah pada saat baik entah pada saat tidak baik. Ucapkan saja mantra kita, karena ketekunan mengucapkannya akan memperlihatkan kepada kita kekayaan-kekayaan rohani yang biasa muncul dari keheningan sebuah hati. Ya, ucapkan saja mantramu!












