Kunjungan ke Paroki St. Yakobus Rasul – Megamendung

Di minggu ke 4 masa advent 2011, tepatnya pada hari Senin,19 Desember yang baru lalu ini, sekelompok umat WAICC  yang sedang mudik bersama teman-teman dari  Jakarta kembali mengadakan ziarek. Kali ini tujuan yang dipilih adalah Paroki St Yakobus Rasul di Megamendung, Cisarua, yang sedang terus membenahi dan melengkapi  gereja dan parokinya.

Sekitar jam 9 pagi peserta ziarek secara berombongan mulai berdatangan, tiba di gereja. Romo Marcus Santoso menyambut dengan hangat dan langsung mengajak kami berkeliling paroki sambil menjelaskan fasilitas-fasiltas yang ada dan menunjukkan pohon-pohon yang beliau tanam, antara lain, pohon Ara berdaun lebar dan pohon Bodhi. Setelah hampir seluruh dari 30 peserta ziarek hadir, acara pun dimulai dengan doa Jalan Salib. Stasi demi stasi kami lalui dengan khusyuk walaupun matahari bersinar cukup terik dan angin kencang beberapa kali mematikan lilin-lilin yang dinyalakan di setiap stasi.

Usai Jalan Salib, beberapa ibu-ibu dari paroki St Yakobus mempersilahkan kami menikmati singkong dan pisang goreng yang telah mereka siapkan ditemani oleh teh manis dan kopi hangat. Kenikmatan pun bertambah dengan penganan ketimus, buah tangan ibu Linda. Kemudian, kami segera menuju Gua Maria yang amat sejuk, bersih dan nyaman untuk berdoa, tak salah kalau romo Marcus menamakan tempat ini sebagai “Taman Doa Adem Ayem”. Kami pun duduk berlesehan untuk mulai melantunkan pujian “Maria Kau Penuh Berkat” dan dilanjutkan dengan merenungkan “Peristiwa Gembira” dalam doa Rosario bersama.

Selesai  berdoa Rosario, sambil menjaga keheningan yang sudah tercipta, kami berjalan  menuju gereja untuk memulai Misa Kudus yang dipersembahkan oleh romo Marcus. Dalam homilinya yang amat berkesan, beliau mengingatkan agar kita sebagai umat “Katholik” harus mempunyai tujuan hidup yang jelas dan mantap yaitu “kehidupan kekal bersama Yesus di Kerajaan-Nya”, dan terus berjuang mencapai tujuan tersebut selagi masih diberikan kesempatan. Doa dan bunda Maria menguatkan perjuangan kita yang berat ini. Beliau pun menegaskan bahwa “waktu” adalah milik Tuhan tetapi,  seringkali kita bersikap seolah-olah “waktu” adalah milik kita.

Pukul 12.15 siang, selesai Misa, ibu Lucia Dharma mengajak kita bersama-sama berdoa Malaikat seperti yang telah direncanakan semula, walaupun sedikit terlambat. Mewakili para peserta ziarah, beliau pun  mengucapkan terimakasih kepada Romo Marcus seraya menyerahkan hasil kolekte dan dana yang terkumpul sebagai Bantuan Pembangunan Gereja yang amat dibutuhkan untuk menyelesaikan renovasi  gedung Paroki dan pembangunan Ruang Adorasi.

Acara ziarah selesai, acara rekreasi pun dimulai, dengan beriring-iringan kendaraan para peserta turun ke kota Bogor menuju Rumah Air yang unik dan indah untuk bersantap siang bersama. Walau pun disambut oleh hujan lebat setiba di lokasi, hal itu tidaklah mengurangi  kegembiraan dan antusias persaudaraan diantara  kami. Nasi timbel dan teh hangat serta pisang bakar keju dan pancake mengalir diantara obrolan dan riuh canda para peserta di kesejukan kota Bogor. Penuh rasa syukur atas segala berkat dan anugerah-Nya, kami pun pulang dengan suatu tekad untuk dapat lebih besyukur dan terus berjuang  mencapai “tujuan hidup” seorang  “Katholik”. (MhJ)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.