Pada tanggal 9 – 11 Desember 2011 kemarin, ICYO kedatangan romo dari Sydney. Romo yang bernama lengkap Ardi Handojoseno SJ atau akrab dipanggil Romo Ardi ini sudah tidak asing lagi bagi kami karena beliau juga menjadi pembicara retreat ICYO September kemarin.
Beliau mendarat di Perth Domestik Airport hari Jumat pagi dan langsung beristirahat sejenak di rumah pembimbing kami, Om Roy dan Tante Elsje. Malam harinya beliau akan menjadi bintang tamu di ICYO nite yang berjudul “Haruskah Yesus Lahir?”. ICYO nite kali ini cukup special karena kita juga mengundang teman-teman dari TOM dan para oom & tante dari WAICC.
Acara diawali dengan perkenalan singkat oleh Romo Ardi. Perbincangan yang dirancang menyerupai talk show ini diawali dengan pengertian masa adven secara singkat dan sejarah kelahiran Yesus. Pembicaan menjadi lebih menarik ketika masuk ke pembahasan tujuan kehiran Yesus dan apa yang terjadi jika Yesus tidak lahir. Satu pokok yang penting yang dapat kita pahami adalah Yesus datang ke dunia untuk menunjukkan jalan benar yang menjadi panutan kita karena iya 100% manusia dan 100 % Allah dan apabila Yesus tidak lahir maka manusia akan terus berada pada masa penantian kedatangan Yesus yang pertama. Sebagai penutup talk show sesi pertama dipaparkan juga sekilas mengenai kedatangan Yesus yang kedua dan persiapan yang harus kita lakukan untuk menyambut kedatanganNya. Sesi kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab yang dilanjutkan kesaksian dari Om Michael mengenai keajaiban Natal dan kesaksian dari Om Johny mengenai kebasaran Yesus dan Allah kita.
Keesokan harinya, Romo Ardi dan beberapa rekan dari ICYO berkumpul bersama lagi pukul 8 pagi di Point Fraser Reserve Causeway Carpark untuk bersepeda mengeliling sungai Swan. Lebih kurang 2 jam berlalu tanpa terasa lalu rombongan kembali ke tempat pertemuan untuk mengembalikan sepada pinjaman dan acara dilanjutkan dimsum bersama di Dragon Palace Restaurant. Tidak sampai disana saja acara jalan-jalan bersama Romo Ardi, beberapa rekan juga mengajak romo untuk berjalan-jalan ke Swan Valley. Tanpa terasa hari sudah mulai sore sehingga acara jalan-jalan di hari Sabtu segera berakhir dan kami mengantarkan Romo Ardi kembali ke rumah Om Roy dan Tante Elsje untuk beristirahat.
Di hari ketiga, Minggu 11 Desember 2011 Romo Ardi mendapatkan kesempatan untuk memimpin misa hari Minggu Adven ketiga berbahasa Indonesia di St. Benedict’s Church Ardross. Melalui khotbahnya beliau menceritakan beberapa kisah perjalanan hidupnya dalam kamp pengungsian di perbatasan Timor Timur serta menceritakan tentang seorang dokter muda yang mengidap penyakit cancer dan hampir mengalami keputus-asaan, akan tetapi melalui penyakit yang dideritanya itulah dokter muda tersebut dapat menjadi terang bagi para pasien-pasiennya karena pengalamannya menjadi seorang pasien penderita cancer. Dalam khotbahnya ini beliau mengajak kita semua untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara dan merawat orang-orang yang remuk hati. “Kita itu bagaikan bulan yang memantulkan cahaya matahari (Allah Bapa). Oleh karena itu jangan sampai cahaya kita redup atau terhalang sehingga keindahan kita tidak dapat dinikmati lagi”, kata Romo Ardi. Sebagai ucapan terima kasih kepada umat WAICC, Romo Ardi tak lupa mempersembahkan suara emasnya diiringi dengan petikan gitar acoustic melalui lagu Nella Fantasia yang dipopulerkan oleh Sarah Brightman. Umat yang hadir pada saat itu pun terkagum-kagum melihat kemahiran Romo Ardi dalam bermain gitar sambil bernyanyi.
Seusai misa, rekan-rekan ICYO bersama dengan Om Roy, Tante Elsje, Om Michael, Tante Yana, Om Irianto, serta Tante Inda pergi ke Fremantle untuk santap siang bersama di Kailis Fish and Chips. Acara lalu dilanjutkan dengan jalan-jalan seputar Fremantle Market dan juga Fremantle Prison. Rombongan juga tidak lupa untuk mengabadikan moment -moment indah ini dengan berfoto bersama. Malam harinya, Romo Ardi diajak ke Kings Park untuk melihat keindahan kota Perth di malam hari. Tidak terasa waktu kunjungan Romo Ardi ke Perth telah berakhir, Beliau akan melanjutkan liburannya di tanah air sebelum kembali kembali ke Sydney untuk melanjutkan studi doktoralnya. Beliau bertolak dari Perth menuju tanah air pada hari Senin subuh, 12 Desember 2011. (Jessica – Reynaldo)












