background image
[Type text]
Cover luar
background image
Cover dalam
2
12
16
24
8
19
28
Chaplain :
Agustinus Ari Pawarto O'Carm
0422095880
Ketua WAICC :
Christian Taniputra
0403628899
Wakil Ketua :
Hasan Sidi
0417170476
Alex Santoso
0433446463
Sekretaris
Sofian Effendy
0411898951
Bendahara
Yunita Wijaya
0413792397
Yuly Johan
0413652709
Koordinator Liturgi
Martina Rumantir
0411413589
Koordinator RCIA
Johana Moeljadi
0402028157
Koordinator Pengembangan Iman
Lucia Dharma
0421081953
Koordinator Devosional
Puspita Kristijanto
93135274
Koordinator Karismatik
Teresya Khoe
0402307547
Koordinator Sosial
Regina Wiyono
0411658849
Koordinator Publikasi
Ferry Widjaja
0417972149
Koordinator Wilayah
Ignatius Budiharsa
0410415905
Koordinator Bina Iman Anak
Anthony Widjaja
0408486490
Ketua TOM
Albert Nugraha
0402474766
Ketua ICYO
Adi Hariya
0433452339
Ketua Young Adult
Ancela Suparno
0430565762
Koordinator Lanjut Usia
Yannie Sunarto
0411658849
Pengurus Wilayah

St. Peter 1: Edna Labella
0413129169

St. Peter 2: Tina Dewi Tantya
0405020195

St. Benedict: Roy Widjaja
0411898333
9315 5347

St. Mary: TBA

St. John & St. Paul: Deddy
9456 2029
Lena (Wakil)

St. Thomas More: Joseph Moeljadi
93104592
0433065887


background image
Halaman | 32
Shine edisi Juni 2009
Telah meninggal pada tanggal 13 Mei 2009, Bpk Matias
Rumantir, ayah dan mertua dari Bpk Jimmy& Ibu Martina
Rumantir.
Telah menikah pada tanggal 9 Mei 2009, Christian Koesnadi &
Yunita Wijaya. Anak dan menantu dari Kel Budijanto Koesnadi
& Kel Hartono Wijaya.
Telah lahir Nicholas Chua, Putra kedua dari Justin & Yuly
Chua, pada tanggal 11 Mei 2009 cucu dari Ibu Mega & Bpk
William Suseno.
Telah lahir Miuccia Laetisha Treasure, pada tanggal 20 Mei
2009, putri pertama dari Brad & Angela Wiyono, cucu dari Bpk
& Ibu Eddy Wiyono.
Telah dibaptis
Telah menerima Sakramen Baptis, Paulus Nicky Malinton
(1th), putra dari Santori Malinton dan Bernadet Sovi, pada hari
Minggu, 17 Mey 2009.
Fundraising
Dinner
&
Dance 2009
Tujuan:
Persiapan
Perwujudan
WAICC Center
Sabtu, 12 September 2009
Melville City Civic Center, Booragoon
Sponsor & Ticket: Ratinda Oetomo
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 1
Pembaca setia SHINE,
Ada seorang anak berusia 12 tahun yang suatu
ketika berucap: "Dad always encourages me to do
one better". Kalimat yang sekilas terdengar
sederhana tapi jika kita renungkan sebetulnya
mengandung makna mendalam. Dalam konteks
kehidupan rohani, misalnya, bisa diibaratkan seperti
keinginan Bapa Surgawi untuk membuat anak-anak
Allah di dunia ini lebih bermanfaat dari hari ke hari,
baik bagi sesama maupun bagi bumi ciptaanNya.
Hal itu juga yang mengilhami penyelenggaraan
aktivitas-aktivitas WAICC di bulan Mei: meneladani
Bunda kita melalui Safari Maria, membuka hati akan
datangnya Roh Kudus dengan melakukan Novena
Pentakosta,
dan
merevitalisasi
kehidupan
berkeluarga dengan berpartisipasi dalam Seminar
Wanita Diberkati dan Pria Sejati Katolik.
Ke depan tentunya kita semua bisa melakukan hal
yang lebih baik lagi ketimbang apa yang telah kita
perbuat di bulan lalu. Ada 6 peristiwa penting di
bulan Juni yang diangkat Romo Ari dalam Kolom
Sapaan Pastor yang bisa dijadikan momentum
perubahan diri di samping tentunya membuka
telinga hati kita akan suara Tuhan dengan metoda
yang telah dirangkum dalam Kolom Tanya Jawab.
Optimisme rekan kita, Subiyanto, yang kami muat
dalam Kolom Kesaksian dapat dijadikan inspirasi
untuk berpikir positif sementara untuk organisasi
kita, Kolom Profil mengangkat Holy Family parish
agar bisa dijadikan teladan untuk membuat
komunitas kita lebih baik lagi.
Akhir
kata,
tim
redaksi
pun
ingin
terus
meningkatkan kualitas SHINE. Jika sekiranya ada
sumbangan
tulisan
atau
ide
bisa
segera
dilayangkan ke meja redaksi. Jika ada umat yang
tertarik untuk duduk di tim redaksi, kami pun akan
sambut dengan tangan terbuka.
Dewan Redaksi
Penanggung jawab:
Ketua WAICC
Moderator:
Indonesian Chaplain
Dewan redaksi:
Jefta Afiat,
Patrick Kusnadi,
Indra Limargana,
Diana Puspita,
Hasan Sidi,
Ferry Widjaja
Yunita Wijaya.
WAICC
Postal address
PO Box 1131,
Booragoon
WA 6954
Seketariat
WAICC CENTRE
119B Ardross Street
Ardross, W.A 6153
(08) 9316 3176
(04) 2209 5880

Website:
www.waicc.org.au
Email:
info@waicc.org.au
background image
Halaman | 2
Shine edisi Juni 2009
BERKAH MELIMPAH DI BULAN
JUNI
audara-saudariku seiman
dalam
persekutuan
Gereja Katolik, kini bulan
telah bergulir ke pertengahan
tahun 2009, yakni bulan enam,
yang disebut juga bulan Juni.
Bulan enam ini merupakan
bulan yang melimpah dengan
berkah. Ada enam peristiwa
penting yang menandai bulan Juni ini, yaitu:
Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Tanggal 7 Juni 2009 Gereja Katolik merayakan hari raya
Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Hari raya
ini mengingatkan akan panggilan kita
untuk hidup dalam rahasia sentral
iman
dan
kehidupan
Kristen
(Katekismus Gereja Katolik, 261),
yakni
hidup
Allah
Tritunggal
Mahakudus. Sejak kita dibaptis dan
sepanjang hidup kita, hidup kita
menjadi tempat tinggal Tritunggal
Mahakudus (bdk. Katekismus Gereja
Katolik, 260 dan 265).
Beata Elisabet dari Tritunggal, seorang
kudus dari Ordo Karmel kelahiran
tahun 1889, menghayati apa artinya
hidup dalam Tritunggal Mahakudus.
Hidupnya merupakan "kemuliaan dan
puji-pujian" bagi Tritunggal Mahakudus
S
Bulan enam ini
merupakan
bulan yang
melimpah
dengan berkah.
Icon of the Holy Trinity,
written by St. Andrei
Rublev
for
the
Cathedral of the Holy
Trinity,
Trinity
Monastery,
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 31
Kegiatan bina iman anak di paroki ini juga meningkat dari
tahun ke tahun. Mulai tahun lalu, kegiatan ini sudah dibagi
menjadi beberapa kelompok usia untuk mempermudah
penanganan dan juga menjaga minat para anak yang terdiri
dari balita sampai anak yang menjelang duduk di bangku SMP.
Di samping itu, Nola Smith ­ motor penggerak kegiatan anak-
anak ini, juga secara rutin mengadakan program sakramental.
Komuni Pertama dan Sakramen Tobat diadakan setiap tahun
sementara Sakramen Penguatan diadakan 2 tahun sekali
dimana biasanya Uskup Don Sproxton, yang pernah tinggal di
paroki tersebut, bertindak sebagai selebran.
Pesta Emas
26 April silam, peringatan hari jadi ke-50 diadakan pada misa
Minggu pagi. Uskup Agung Barry Hickey menyempatkan diri
memimpin perayaan tersebut dengan dibantu Father Pat
Cunningham ­ mantan pastor paroki, Father Greg Donovan ­
salah satu warga paroki Como yang akhirnya memilih hidup
selibat, dan Father Al sendiri. Para warga memenuhi ruangan
gereja pagi itu, menunjukkan cintanya pada paroki ini. Usai
misa, umat yang hadir diajak menikmati hidangan kecil disertai
kopi, teh, dan champagne.
Proficiat paroki Holy Family. Semoga kehadiran anda
membuat umat pelbagai penjuru dunia merasakan kehadiran
dan kedamaian-mu.
SENAKEL
Tanggal : 1 Juni 09
Waktu : 11.00 Pagi
Tempat : Kediaman Patrick & Diana
4 Noble way, Success.

Tanggal : 15 Juni 09
Waktu : 07.00 Malam
Tempat : Gereja Pater Noster
460 Marmion Street, Booragoon.
background image
Halaman | 30
Shine edisi Juni 2009
Father Al, panggilan akrab romo asal
Singapura
ini,
kemudian
mulai
melakukan renovasi gereja dan fasilitas
paroki
dalam
2
tahun
pertama
penunjukkannya. Dana diperoleh dari
penjualan
kapling
bekas
paroki
Kensington. September 2002 aula gereja
berhasil
dibangun.
Kegiatan
misa
dipindahkan ke aula sementara bagian dalam gereja
direnovasi. Pada tanggal 2 Pebruari 2003, gereja dibuka
kembali dimana Uskup Don Sproxton bertindak sebagai
selebran.
Selain bangunan fisik paroki, selama satu dekade lebih Father
Aloysius berhasil juga menggalang umat. Father yang ramah
dan punya kemampuan mengingat nama umatnya ini menarik
perhatian banyak komunitas migran, baik dari Singapura,
Malaysia, Filipina, dan Indonesia.
Uskup Don Sproxton saat memberikan Sakramen Penguatan
pada warga muda paroki (September 2007)
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 3
yang hadir dalam hatinya dan yang dicintainya di tengah-
tengah kegelapan batin serta penyakit yang dideritanya. Dalam
sebuah doanya, dia mengatakan, "O Allahku, Tritunggal, yang
aku sembah, bantulah aku, melupakan diri sehabis-habisnya,
supaya tertanam di dalam Engkau, tidak tergoyangkan dan
tenteram, seakan jiwaku sudah bermukim dalam keabadian.
Semoga tak sesuatu pun dapat mengganggu kedamaianku,
membujuk aku keluar dari Dikau, Engkau yang tidak dapat
berubah; semoga setiap saat Engkau membawa aku masuk
lebih jauh ke dalam dasar rahasia-Mu."
Katanya lagi, "Puaskanlah jiwaku, bentuklah surga-Mu darinya,
tempat tinggal-Mu yang terkasih dan tempat ketenagan-Mu.
Aku tidak pernah akan membiarkan Engkau seorang diri di
sana, tetapi aku akan hadir sepenuhnya, sepenuhnya sadar
dalam
iman,
sepenuhnya
penyembahan,
sepenuhnya
penyerahan kepada karya-Mu yang menciptakan..."
Sebab itu, hendaknya perayaan ini makin menandai hidup kita
yang berciri trinitaris. Artinya, "siapa yang mengikuti Kristus,
melakukannya karena Bapa menariknya (bdk. Yoh 6:44) dan
Roh Kudus menggerakkannya (bdk. Rom 8:14). Pada hari raya
Tritunggal, 7 Juni, ada dua anak muda yang menerima
Sakramen Baptis, menandai hidup mereka yang berciri
trinitaris.
Hari raya Tubuh dan Darah Kristus
Seminggu berikutnya, 14 Juni 2009, kita merayakan hari raya
Tubuh dan Darah Kristus. Perayaan ini mengingatkan kita
akan Ekaristi sebagai sumber hidup Gereja. Sebab, "Gereja
hidup dari Ekaristi" (Paus Yohanes Paulus II, Ensiklik Ecclesia
de
Eucharistia,
Ekaristi dan Hubu-
ngannya
dengan
Gereja,
2003:1).
"Ekaristi,
sebagai
kehadiran
Kristus
yang
menyelamat-
kan dalam perseku-
tuan umat beriman
dan menjadi santa-
background image
Halaman | 4
Shine edisi Juni 2009
pan rohaninya, adalah milik Gereja yang paling berhar-ga,
dalam peziarah-annya sepanjang sejarah," tegas Bapa Suci
yang meninggal empat tahun silam ini.
Kata-kata
"Ekaristi,
sebagai
kehadiran
Kristus
yang
menyelamatkan dalam persekutuan umat beriman" sejatinya
menyangkut hakikat dari Ekaristi sekaligus buah darinya.
"Ekaristi
mencipta
komunitas
manusia,
justru
dalam
membangun Gereja," kata Paus Yohanes Paulus II. "Benih-
benih perpecahan, yang menurut pengalaman setiap hari
begitu dalam mengakar pada manusia sebagai akibat dosa,
ditangkal oleh daya pemersatu tubuh Kristus," tegasnya lagi
(lih. EE, 24).
Gereja yang hidup dari Ekaristi sangat nyata buahnya dalam
hal kesatuan dan keutuhan Gereja Katolik hingga hari ini dan
sepanjang masa. Sebab itu, Ekaristi yang dihayati sungguh-
sungguh akan menciptakan, membentuk dan mengutuhkan
kehidupan setiap keluar-ga, komunitas, paroki dan bahkan
seluruh Gereja. Ekaristi adalah daya pemersatu Gereja
sebagai tubuh Kristus. Bersyukurlah kita, bahwa Gereja Katolik
memiliki dan menghayati Sakramen Ekaristi. Semoga umat
makin mencintainya.
Hari raya Hati Yesus Yang Mahakudus
Tanggal 19 Juni 2009 Gereja Katolik
merayakan hari raya Hati Yesus Yang
Mahakudus. Perayaan ini mengingatkan
kita akan Yesus dan Hati-Nya Yang
Mahakudus. Kita disadarkan lebih dalam
lagi akan cinta Yesus dan panggilan kita
untuk hidup dalam budaya kasih. Sebab,
kita telah dikasihi-Nya dengan kasih ilahi
yang
menebus
dan
menyelamatkan.
Katekismus
Gereja
Katolik,
dengan
mengutip Ensiklik Paus Pius XII yang indah
"Haurietis Aquas" (1956) menyatakan, "Ia [Yesus] mencintai
kita dengan hati seorang manusia. Atas dasar itu, maka hati
Yesus tersuci, yang ditembus oleh dosa kita dan demi
keselamatan kita dilihat sebagai tanda pengenal paling ampuh
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 29
Ornamen kaca patri yang dipertahankan sebagai penghias
interior
Father
Linnane
dengan
penuh
semangat
berusaha
membangun gereja baru ini. Akhirnya pada 12 April 1959,
bangunan gereja Keluarga Kudus ini rampung dan diresmikan
oleh Uskup Prendiville. Father Linnane akhirnya pensiun pada
tahun
1977
dan
kembali
ke
Irlandia
sampai
ia
menghembuskan napas terkahirnya bulan Januari 2005.
Jabatan pastor kepala sempat dipegang sementara oleh
Father Pat Cunningham sebelum dilanjutkan oleh Father Pat
O'Reilly (Oktober 1977 ­ September 1981), Father Jim O'Brien
(September 1981 ­ Mei 1985), Father John Magill (Mei 1985 ­
Desember 1986), Father Mark Rigney (Januari 1987 ­
Desember 1989), Father Frank O'Dea (Januari 1990 ­
Desember 1993), dan Father Peter Collins (April 1993 ­
Desember 1998).
Dekade Terakhir: Generasi Muda
Pada akhir 1998, paroki kecil Kensington, digabung dengan
paroki Keluarga Kudus ini. Father Aloysius Leong ditunjuk
sebagai pastor kepala mulai bulan Januari 1999.
background image
Halaman | 28
Shine edisi Juni 2009
Paroki Keluarga Kudus, Como
mat mungkin banyak yang sudah tahu gereja Keluarga
Kudus (Holy Family) yang terletak di perempatan
Canning Highway dan Thelma street, Como. Terkadang
PDKK
St.
Paulus
juga
memperguna-kan aula gereja untuk
pertemuan ru-tin mereka. Namun
apakah anda tahu bahwa paroki
terse-but merayakan hari jadi ke-50
tahun ini? Mari kita simak sejarah
paroki "tetangga" kita ini.
Bermula Sekitar Perang Dunia II
Sebelum Perang Duna II, daerah Como belum banyak
berkembang dan merupakan bagian dari paroki South Perth.
Baru pada tahun 1947, Father Buckley, asisten pastor kepala
paroki South Perth, memulai menyelenggarakan misa
mingguan di Como State School yang kala itu bertempat di
Preston street; tepatnya dimana saat ini berdiri Cygnet
Theatre. Rupanya inisiatif ini disambut positif dan bisa
bertahan hingga lebih dari 6 tahun.
Nopember 1953 bagunan paroki mulai didirikan di bagian barat
kapling di perempatan Canning Highway dan Thelma street.
Pada bulan Maret 1955, Como dijadikan paroki tersendiri dan
Father Thomas Linnane ditunjuk sebagai pastor kepala. Pastor
asal Irlandia ini sudah bermigrasi ke Australia selama hampir
20 tahun sebelum ditunjuk sebagai pastor kepala. Selama
kurun waktu tersebut, ia sudah dua kali ditunjuk membuka
suatu paroki baru di dalam Keuskupan Agung Perth dan Como
menjadi paroki barunya yang ke-3.
U
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 5
dan sebagai lambang cinta, yang dengannya Penebus ilahi
tetap mencintai Bapa abadi dan semua manusia" (KGK, 478).
Pada tahun 1899, Paus Leo XIII mempersembahkan dunia,
yang hidup dalam budaya kebencian, kepada Hati Yesus Yang
Mahakudus. Sejak waktu itu, para penerusnya senantiasa
mendorong umat beriman supaya berpaling kepada Hati
Yesus Yang Mahakudus dan mempersembahkan diri secara
pribadi. Mereka juga meminta dengan sangat agar kaum
beriman menyampaikan doa-doa dan silih kepada Hati Yesus
Yang Mahakudus sebagai silih atas dosa dunia yang begitu
banyak. Doa-doa dan silih tersebut kini telah membentuk
sebuah devosi kepada Hati Yesus Yang Mahakudus, salah
satu devosi populer yang menyuburkan hidup rohani umat
hingga saat ini.
Seratus tahun kemudian sejak tahun 1899, pada tahun 1999
Paus Yohanes Paulus II dalam pesannya memperingati 100
TAHUN Penyerahan Umat Manusia kepada Hati Yesus Yang
Mahakudus menyatakan, "Saya telah seringkali mendorong
umat beriman agar bertekun dalam devosi ini, yang
mengandung pesan yang sungguh amat tepat dalam jaman
kita ini, sebab musim semi kehidupan yang tanpa akhir, yang
membangkitkan harapan bagi setiap orang, telah memancar
tepat dari Hati Putra Allah yang wafat di kayu salib. Dari Hati
Yesus yang tersalib lahirlah umat manusia baru yang telah
ditebus dari dosa."
Tahun Para Imam
Tanggal 16 Maret 2009 lalu, Bapa Suci Benediktus XVI
mengumumkan akan diselenggara-kannya TAHUN PARA
IMAM. Tahun Para Imam ini dimulai tepat pada hari raya Hati
Yesus Yang Mahakudus, tanggal 19 Juni 2009. Bapa Suci
akan membukanya secara meriah di Roma, dengan
menghadirkan relikwi St. Yohanes Maria Vianney, yang dibawa
ke Roma oleh Bishop Guy Bagnard dari Belley-Ars. Tahun
Para Imam akan ditutup pada hari raya Hati Yesus Yang
Mahakudus tahun 2010 di Basilica St. Petrus, Vatikan ­ Roma,
yang ditandai dengan pertemuan para imam sedunia.
Perayaan Tahun Para Imam ini diadakan dalam rangka
peringatan 150 tahun wafatnya St. Yohanes Maria Vianney,
background image
Halaman | 6
Shine edisi Juni 2009
seorang imam sederhana dan soleh yang menghabiskan
hampir seluruh waktunya di desa Ars, Perancis. Paus
Benediktus XVI secara resmi menetapkan St. Yohanes Maria
Vianney sebagai pelindung para imam di seluruh dunia.
Adapun tema Tahun Para Imam adalah "Faithfulness of Christ,
Faithfulness of Priests."
Diharapkan bahwa Tahun Para Imam ini akan menjadi
kesempatan untuk mengucapkan terima kasih yang besar atas
para imam dan panggilan mereka serta menjadi sebuah
penemuan baru akan identitas imamat, bukan saja bagi para
imam melainkan juga bagi seluruh Gereja. Di samping itu, juga
untuk membantu para imam menemukan keindahan akan
panggilan mereka. Lebih lanjut, untuk mempromosikan
panggilan calon imam dan meningkatkan mutu pendidikan
para calon imam sesuai dengan hidup dan misi imam-imam di
tengah dunia modern.
Hari raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis
Selain Bunda Maria, seorang kudus
yang dirayakan kelahirannya secara
khusus adalah St. Yohanes Pembaptis.
Bagi Gereja Katolik, kelahiran Yohanes
merupakan sebuah fajar penebusan
kita.
Sebab,
kepadanya
Allah
menyerahkan
tugas
luhur:
mempersiapkan
dunia
akan
kedatangan
Penebusnya.
Kata
Zakharia
dalam
nubuatnya,
"Dan
engkau, anakku, akan disebut Nabi Allah Yang Mahatinggi;
karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk
mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada
umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan
pengampunan dosa-dosa mereka..." (Luk 1:76-77).
Kelahiran Yohanes terbilang istimewa, ia dikandung oleh
seorang ibu yang sudah lanjut usia. Zakharia, suami Elisabet
pun keheranan dan sulit untuk bisa mengerti bahwa isterinya
bisa mengandung. Sejak dalam rahim ibunya ia penuh dengan
Roh Kudus (lih. Luk 1:15) dan kehadirannya akan membuat
banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka.
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 27
pembacaan Kitab Suci, sabda Allah. "Sabda Allah adalah
terang yang menyinari jalan kita. Dalam iman dan doa kita
harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Atas
cara ini hati nurani dibentuk" (Katekismus Gereja Katolik, No.
1802).
Katekismus juga menegaskan, "Supaya dapat mendengarkan
dan mengikuti suara hati nurani, orang harus mengenal
hatinya sendiri. Upaya mencari kehidupan batin menjadi lebih
penting lagi, karena kehidupan seringkali mengalihkan
perhatian kita dari setiap pertimbangan, dari pemeriksaan diri
atau dari instropeksi" (KGK, No. 1779). Suara Tuhan yang
dibisikkan melalui suara hati makin terasa "getarannya",
"gaungnya", jika dilatih melalui pemeriksaan batin atau
instropeksi diri. Sebab itu St. Agustinus mengatakan,
"Masuklah ke dalam hati nuranimu dan tanyakanlah dia!...
Masuklah ke dalam batinmu, saudara-saudara! Dan di dalam
segala sesuatu yang kamu lakukan, berusahalah agar Allah
adalah saksinya."
Kelemahan banyak orang ialah jarang atau bahkan tidak
pernah mengadakan instropeksi diri atau pemeriksaan batin.
Hal ini sangat penting, terutama jika kita mau merayakan
Sakramen Rekonsiliasi.
Demikian tanggapan saya. Semoga menjawab apa yang ibu
maksud. Tuhan memberkati!
(Rm. Ari, O.Carm)
RCIA:
Information Day untuk Umum
Tanggal : 20 Juni 2009
Waktu : 9.30-13.00
Tempat : Ruang Albert Lynch, St. Benedict, Ardross
background image
Halaman | 26
Shine edisi Juni 2009
menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya
sendiri, tetapi harus ditaatinya. Suara hati itu selalu
menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan
apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat.
Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya:
jauhkanlah ini, elakkanlah itu. Sebab dalam hatinya manusia
menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah
mematuhi hukum itu.... Hati nurani ialah inti manusia yang
paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama
Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya."
Perhatikan kata-kata yang saya cetak miring, sebagai kata-
kata kunci untuk mengerti mengenai mendengarkan suara
Tuhan! Tuhan menyerukan, menggemakan sapaan-Nya dalam
batin atau hati nurani setiap orang. Oleh karena itu, misalnya
dalam suatu kesaksian iman atau sharing pengalaman ada
orang yang mengatakan, "Suatu pagi pada waktu saya sedang
berdoa, Tuhan bilang kepada saya: .......," atau, "Suatu kali
Tuhan pernah menegur saya, Dia bilang: ......," nah kata "Dia
bilang: ..." di sini dalam arti Tuhan menyerukan atau
menggemakan sapaan-Nya lewat hati nurani atau batinnya
yang terdalam. Jadi, hampir pasti tidak dalam arti seruan
dengan bersuara yang orang lain bisa mendengar.
Kardinal John Henry Newman, venerabilis
kelahiran London 21 Pebruari 1801, menyebut
bahwa "Hati nurani adalah `hukum roh' dan
juga suatu `bisikan langsung', dalamnya
terdapat juga `gagasan pertanggungjawaban,
kewajiban, ancaman dan janji... Ia adalah
utusan dari Dia, yang berbicara kepada kita
baik di dalam alam maupun di dalam rahmat di balik satu
selubung dan mengajar serta memerintah kita melalui wakil-
wakil-Nya. Hati nurani adalah wakil Kristus yang asli."
Perhatikan kata-kata yang saya cetak miring, bahwa suara hati
nurani itu suatu bisikan langsung, yang mengajar, memerintah,
menegur, mengingatkan, menghibur dan sebagainya (bdk.
2Tim 3:15-17). Tuhan berbicara melalui utusan-Nya, yakni hati
nurani. Oleh sebab itu, penting sekali pembinaan hati nurani,
sehingga suara Tuhan makin terdengar kuat walau hanya
berupa "bisikan" dalam hati. Bagaimana caranya? Melalui
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 7
Perayaan ini bisa menjadi kesempatan untuk merefleksikan
kembali akan apa artinya menjadi seorang ibu yang
melahirkan dan apa artinya menjadi seorang anak yang hidup
dalam rencana Allah. "Menjadi apakah anak ini nanti?" (Luk
1:66) juga menjadi pertanyaan para orang tua atas anak-
anaknya, terutama ketika anak-anak menginjak remaja dan
dewasa. Hanya anak-anak yang hidup di jalan Tuhan akan
memberikan jawaban yang meneduhkan bagi ibu yang pernah
melahirkan.
Penutupan Tahun St. Paulus
Hari raya St. Petrus dan St. Paulus
pada tanggal 29 Juni 2009 merupakan
hari penutupan Tahun St. Paulus.
Perayaan Tahun St. Paulus ini dibuka
pada hari raya St. Petrus dan St.
Paulus pada tanggal 28 Juni 2008 yang
lalu.
Tahun St. Paulus yang ditetapkan oleh
Paus Benediktus XVI ini dimaksudkan
sebagai
peringatan
2000
tahun
kelahiran
St.
Paulus.
"Semoga
perayaan Tahun Paulus mengantar kita kepada suatu
penghargaan yang lebih besar terhadap Santo Paulus dan
kepada kesatuan umat Kristiani," kata Archbishop BJ Hickey
dalam penutup surat gembala Tahun St. Paulus, Juni 2008
lalu.
Selama Tahun St. Paulus ini, PDKK St. Paulus secara serial
mengambil teks surat-surat St. Paulus sebagai bahan
renungan PD yang diadakan setiap hari Selasa malam.
Semoga dengan usaha ini, apa yang menjadi harapan
Archbishop Hickey juga menjadi pengalaman umat WAICC.
Selamat menemukan berkah melimpah pada bulan enam
2009. Jangan lewatkan kesempatan indah itu untuk
menghadirinya. Tuhan memberkati!
Rm.A. Ari pawarto, O.Carm
Indonesian Chaplain
background image
Halaman | 8
Shine edisi Juni 2009
Keluarga Dimenangkan
capan syukur kusampaikan
kepada Tuhan, kalau setiap
saat
saya
bisa
bernapas
dengan lega seperti hari ini. Saat
saya membuat tulisan ini, saya bisa
menghirup udara sejuk awal winter
dengan begitu bebasnya, betapa
tidak? Di awal winter tahun lalu saya
mengalami gangguan kesulitan
bernapas secara normal. Setelah
melalui pemeriksaan, hasil biopsy
menjadi
berita
yang
begitu
mengejutkan, karena gangguan di
dalam
rongga
hidung
tersebut
dinyatakan
sebagai
kanker
`Nasopharyngeal Carsinoma' yang
agresif dan sudah mencapai stadium
4 dan harus segera diambil tindakan.
Masa-masa
menjalani
treatment
pengobatan, perjalanan yang dilalui
sungguh bukan sesuatu yang mudah
dan enak untuk dialami. Kemoterapi
dan radioterapi yang diawali dengan
pencabutan seluruh gigi geraham,
perut yang dilubangi untuk dipasang
selang guna supplai makanan karena
selama 4 bulan tidak bisa makan
melalui rongga mulut pasca radiasi,
efek samping dari treatment yang
diberikan meluluh-lantakan seluruh
tubuh, rasanya dan sungguh miris
kalau mengingat semua itu.
U
Sungguh
beruntung
kalau saya
boleh
mengenal
Yesus
sebagai
Tuhan yang
begitu
peduli dan
penuh
kasih.
Kasih-Nya
selalu saya
nikmati
setiap saat
sampai saat
ini, dan
inilah yang
mau saya
sharingkan.
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 25
Doa dan pembacaan Kitab Suci adalah dua hal yang berbeda
namun sekaligus berkaitan. Doa adalah suatu relasi pribadi
yang dibangun oleh si pendoa kepada Siapa ia berdoa, dalam
hal ini, kepada Tuhan. Saat itulah kita berbicara dengan
Tuhan. Kita menyuarakan isi hati (dan pikiran) kita kepada
Tuhan dan Ia mendengarkan seruan kita, seperti Daud
berkata, "Tuhan mendengarkan, apabila aku berseru kepada-
Nya" (Mzm 4:4b).
Sebaliknya, kita mendengarkan suara Tuhan bila kita
membaca amanat-amanat ilahi dalam Kitab Suci. Melalui
pembacaan Kitab Suci, "Bapa yang ada di sorga penuh cinta
kasih menjumpai para putra-Nya, dan berwawancara dengan
mereka" (Dei Verbum, No. 21); Dalam Perjanjian Lama, Bapa
berbicara dengan perantaraan para nabi, dalam Perjanjian
Baru: dalam Injil Yesus sendiri, Putra-Nya, Sang Sabda yang
menjadi manusia, yang berbicara. Selain itu Ia berbicara
melalui para rasul. Pada saat itulah kita menempatkan diri
sebagai pribadi yang mendengarkan suara Tuhan. Sebab itu
dalam setiap pembacaan Kitab Suci di gereja atau dalam Misa
Kudus,
pembaca
mengakhiri
pembacaannya
dengan
mengatakan, "Demikianlah sabda Tuhan" dan umat menjawab,
"Syukur kepada Allah."
Metode doa "Lectio Divina" ­ dulu pernah saya jelaskan di
Majalah SHINE, Desember 2006, hlm. 4-7) ­ adalah metode
yang sangat bagus karena merangkul kedua hal tersebut,
yakni doa dan pembacaan Kitab Suci. Pada waktu langkah
pertama, membaca dan memahami teks, kita ada dalam posisi
sedang mendengarkan suara Tuhan. Kita mendengarkan apa
yang sedang Tuhan suarakan kepada kita, sedangkan pada
langkah berikutnya, waktu langkah ketiga yakni berdoa, kita
menyuarakan apa yang menjadi isi hati kita berkaitan dengan
pesan Tuhan lewat perikop Kitab Suci tersebut. Lectio Divina
adalah salah satu cara untuk "mendapatkan" suara Tuhan
terdengar dalam relung hati kita. Suasana hening dan tenang,
sangat membantu kita untuk mendengarkan suara Tuhan
lewat Kitab Suci.
Kedua, melalui suara hati. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi
Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini (Gaudium et
Spes, No. 16) mengatakan, "Di lubuk hati nuraninya manusia
background image
Halaman | 24
Shine edisi Juni 2009
Mendengarkan Suara Tuhan
Pertanyaan
omo, bagaimanakah kita bisa mendengar Suara
Tuhan?
Sikap
yang
bagaimana
supaya
kita
mendapatkan itu? Terima kasih banyak Rm. Ari atas
waktu dan tanggapannya.
(Ibu Rosa de Lima Kusianti, Perth/Surabaya)
Jawaban
bu bertanya soal mendengarkan, dan yang didengarkan
adalah suara Tuhan. Ada beberapa hal, bagaimana sikap
mendengarkan suara Tuhan ini bisa tercipta.
Pertama, melalui doa dan pembacaan Kitab Suci. Kata-
kata St. Ambrosius berikut ini semoga dapat membantu. Uskup
dan Pujangga Gereja yang berhasil mempertobatkan
Agustinus sebelum memasuki masa kejayaannya (hidup baru,
red) ini pernah berkata, "Kita berbicara dengan Tuhan bila
(kita) berdoa; kita mendengarkan suara-Nya bila membaca
amanat-amanat ilahi."
Konsili Vatikan II mengutip kata-kata tersebut ketika berbicara
mengenai Kitab Suci dalam Kehidupan Gereja dalam
Konstitusi Dogmatis tentang Wahu Ilahi (Dei Verbum, 25).
Dalam Dei Verbum, No. 25 ini ditegaskan bahwa "doa harus
menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah
wawancara antara Allah dan manusia."
R
I
Para pembaca Shine yang terkasih, melalui rubrik "Tanya-
jawab Dengan Romo" ini Anda dapat menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan seputar Kitab Suci. Rm. Ari,
O.Carm akan berusaha untuk membantu Anda. Anda juga
bisa
mengirimkannya
langsung
pada:
romo_ari@yahoo.com
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 9
Saat divonis terkena kanker ganas yang terlintas di pikiran
adalah bayangan kematian. Secara pribadi saya berserah bila
harus menghadap Tuhan, tetapi bagaimana dengan nasib istri
dan anak-anak yang masih kecil? Hancur hati saya saat
memikirkan hal itu dan kami terlarut dalam tangis saat
memberitahukan berita ini kepada mereka.
Sungguh beruntung kalau saya boleh mengenal Yesus
sebagai Tuhan yang begitu peduli dan penuh kasih. Kasih-
Nya selalu saya nikmati setiap saat sampai saat ini, dan inilah
yang mau saya sharingkan.
Saya sungguh percaya
bahwa
Tuhan
sudah
mempersiapkan semuanya.
Kami sekeluarga dituntun-
Nya bermigrasi dan tinggal
di
Kota
Perth.
Saya
mendapatkan
pekerjaan
sebagai
`courier
driver'.
Pekerjaan ini menyebabkan
saya
kembali
kepada
kebiasaan
lama
yang
dahulu sering saya lakukan.
Pada saat saya lahir baru,
kebiasaan yang sudah lama
saya
tinggalkan,
yaitu
bangun pagi, berdoa dan baca Alkitab. Bekerja di Messenger
Post menuntut saya bangun pagi dan seharian berada di
belakang kemudi sendirian. Hal yang saya lakukan sebelum
berangkat kerja adalah berdoa dan baca Alkitab beberapa
pasal dan sebagai teman di dalam mobil saya putar lagu-lagu
pujian dan kaset-kaset kotbah atau renungan. Saya juga mulai
mengikuti kegiatan di komunitas WAICC yaitu di Persekutuan
Doa Karismatik Katolik (PDKK) St. Paulus, dan sungguh
semuanya itu menjadikan saya semakin hari semakin dekat
dengan-Nya.
Sampai akhirnya tepat setahun yang lalu saya mendapatkan
sakit ini. Saya mengucap syukur sudah berada di Aussie,
karena tak terbayangkan bila semua ini terjadi dan saya masih
background image
Halaman | 10
Shine edisi Juni 2009
di Jakarta, barangkali bagi saya untuk mencari dokter
oncology yang ahli pun sudah menjadi kesulitan tersendiri.
Tema yang selalu saya renungkan ialah, "Dengan bertobat
dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal
tenang dan percaya terletak kekuatanmu" (Yes 30:15). Saat
pertama mendengar vonis kanker ganas, secara manusia saya
shock. Ayat ini menjadi pegangan saya, sehingga saya tidak
larut dalam pikiran dan complain mempertanyakan kenapa dan
mengapa ini terjadi, melainkan mengucap syukur, mohon
pengampunan, berserah dan mohon bimbingan Roh Kudus,
apa yang mesti saya lakukan.
Ternyata, Tuhan sudah mengatur semuanya, terbukti
berdatangan jadwal-jadwal yang tersusun rapi kapan saya
harus pergi ke hospital, bertemu dari dokter yang satu ke
dokter yang lain, yang menjadi satu tim dan saya yang tidak
tahu apa-apa tinggal menyerahkan badan saja. Juga
berdatangan simpati dari teman-teman yang menjenguk ke
hospital, berkunjung ke rumah, mendukung dalam doa dan
mengirim pesan melalui SMS. Saya melihat tangan Tuhan
bekerja melalui tim dokter yang merawat saya selama
treatment berlangsung, melalui teman-teman dan saudara
seiman yang memberikan dukungan yang sangat menguatkan.
Tangan Tuhan memegang saya melalui teman-teman dan
saya tidak pernah merasa sendirian atau ditinggalkan untuk
menghadapi sakit ini.
Firman Tuhan berkata,
bahwa
ujian-ujian
yang kita alami tidak
pernah
melebihi
kekuatan yang Dia
berikan pada kita, dan
saya sangat percaya
bahwa
semuanya
dikerjakan oleh Tuhan
untuk sebuah maksud
yang mulia supaya
kita semakin dekat
dengan-Nya.
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 23
background image
Halaman | 22
Shine edisi Juni 2009
Bila kedua kegiatan tersebut belum dibanjiri umat, maka
seminar 3 hari yang diprakasai Seksi Karismatik bisa dibilang
mbludag; tercatat lebih dari 130 umat menghadiri seminar
yang diadakan pada 15-17 Mei itu. Minat warga atas seminar
yang dipimpin oleh Romo John Lefteuw MSC ini mungkin juga
dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang membuat
banyak orang kehilangan kepercayaan diri atau merasa hidup
terisolasi. Oleh karena itu Gereja Katolik merasa perlu
membantu umatnya
menemukan hakikat
diri mereka, baik di
hadapan
sesama,
termasuk pasangan
hidup, maupun di
hadapan
Allah.
Seminar
yang
ditujukan
bagi
pasangan
yang
akan atau sudah
menikah
ini
disajikan
dengan
menarik oleh Romo
John
dengan
bantuan pasutri Joppy dan Yvonne Taroreh, Ibu Rina, dan
beberapa anggota Komunitas Gratia lainnya dari Indonesia.
Dalam beberapa sesi, kaum perempuan dikumpulkan di aula
gereja Pater Noster, sengaja dipisahkan dari kaum pria yang
ditempatkan di dalam gereja untuk mengoptimalkan interaksi.
Di samping diingatkan kembali akan tugas-tugasnya masing-
masing dalam berkeluarga dan bermasyarakat, peserta juga
diberikan dasar-dasar biblis dari setiap tugas tersebut.
"Kita adalah pemenang sejak awal penciptaan kita, dengan
format yang sempurna menurut gambar dan rupa Allah. Akan
tetapi setiap orang adalah unik, maka hendaknya kita tidak
saling merendahkan sesama tetapi saling menghargai,
demikian juga terhadap pasangan hidup dan anak-anak dalam
keluarga", kata Romo John yang berbadan tambun ini.
Tentunya diharapkan para peserta dapat menerapkan hal-hal
yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari.
Safari Maria hari ke-4, 13 Mei 2009, di
paroki Our Lady of the Mission,
Craigie.
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 11
Semua beban berat, setiap masalah dan cobaan itu adalah
cara Tuhan untuk mendidik kita supaya iman kita naik dan
semakin naik. Dalam Yoh 15:1-2 dikatakan, "Akulah pokok
anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap
ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap
ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak
berbuah." Tuhan Yesus adalah pokok anggurnya dan kita
adalah ranting-rantingnya, kalau kita berbuah dan berkenan
kepada-Nya, maka kita akan dituntut lebih banyak, diproses,
dipruning dikuliti batang-batangnya dan dibersihkan supaya
lebih banyak berbuah lagi dan semakin berkenan dihadapan-
Nya.
Ibarat ulat yang tadinya membuat gatal-gatal dan dihindari
orang, diproses jadi kepompong dan harus berjuang untuk
keluar dengan susah payah dari kepompongnya dan
selanjutnya menjadi kupu-kupu yang indah, yang terbang
tinggi dan dikagumi banyak orang. Demikianlah kita dipilih
Tuhan untuk diproses dan harus mengalami hal yang tidak
mengenakkan untuk hidup yang lebih berkenan di hadapan-
Nya.
Dari sakit yang saya alami, sekarang saya mengucap syukur
karena Tuhan berkenan memilih saya untuk masuk dalam
pengujian-Nya. Sakit ini menjadi berkat dalam hidup saya dan
bagi keluarga saya. Anak-anak dan keluarga dimenangkan.
Mereka melihat perjuangan kami sebagai orang tua mereka
(istri dan saya) ikut bergumul dan tanpa kami minta, mereka
pun ikut berpartisipasi. Mereka bangun pagi, berdoa, dan mulai
membaca Alkitab.
"Terima kasih Tuhan kalau kemuliaan-Mu boleh nyata dalam
hidup keluarga kami dan Engkau perkenankan keluarga kami
menjadi milik kepunyaan-Mu. Kami ingin berkata, `ya'
menjawab setiap kehendak-Mu. Kami mau mengasihi dan
melayani-Mu! Alleluya!"
Subiyanto
background image
Halaman | 12
Shine edisi Juni 2009
Sakramen Tobat Dan
Perdamaian:
KUASA MENGAMPUNI
(BAGIAN V)
njil Markus mencatat, "Siapa
yang dapat mengampuni dosa
selain dari pada Allah sendiri?"
(Mrk 2:7). Ini adalah pikiran
beberapa
ahli
Taurat tatkala
Yesus berkata kepada seorang
lumpuh, "Hai anak-Ku, dosamu
sudah diampuni!" (ay 5). Kata-
kata beberapa ahli Taurat tersebut
menjadi "pegangan" banyak orang
hingga saat ini, bahwa hanya
Allahlah yang dapat mengampuni
dosa seseorang. Lalu, bagaimana
pandangan Yesus sendiri?
Otoritas Mengampuni
Karena Yesus itu adalah Anak Allah, Ia berkata kepada
beberapa ahli Taurat, "bahwa di dunia ini Anak Manusia
berkuasa mengampuni dosa" (Mrk 2:10). Hal ini dikatakan oleh
Yesus supaya beberapa ahli Taurat itu tahu. Dalam hal ini,
I
Banyak orang
berpendapat,
bahwa Sakra-
men Tobat itu
tidak perlu, se-
bab orang bisa
mengaku dosa
langsung
kepa-da Allah
dan
tidak
perlu me-lalui
seorang imam
tertahbis.
Bagai-mana
pandangan
Kitab Suci dan
Gereja Katolik?
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 21
sepakat untuk berdoa Rosario di waktu pribadi masing-masing.
Selain berdoa Rosario, Fellowship minggu lalu mengusung
format yang berbeda yaitu menonton bersama film rohani,
Jesus of Montreal yang sangat menyentuh dan inspirasional.
Carissa Tandjung
Menjadi Lebih Baik Lagi
ulan Mei ditandai dengan beberapa kegiatan penting
dalam komunitas kita ini; Safari Maria di 9 gereja yang
berada dalam Keuskupan Agung Perth, Novena
Pentakosta 9 hari berurut-turut yang dimulai Jumat 22 Mei
silam, dan seminar Wanita Diberkati dan Pria Sejati Katolik di
paroki Pater Noster, Myaree. Tidak bisa disangkal, semua ini
tentunya dimaksudkan untuk menjadikan setiap kita manusia
yang lebih baik lagi.
Maria adalah simbol
keterbukaan
akan
kedatangan
Roh
Kudus.
Maka
terberkatilah anggota
komunitas kita yang
bisa menyempatkan
waktu
untuk
berpartisipasi dalam
Safari Maria maupun
Novena Pentakosta
karena mereka telah
membuat persiapan
membuka hati untuk
menyong
song
kehadiran dan karya
Roh Kudus. Tak lupa
ucapan selamat bagi
Seksi
Liturgi
dan
chaplain kita yang telah bersusah-payah menyelenggarakan
kegiatan ini agar umat bisa diutus untuk menjadi saksi-saksi
Yesus yang tersalib, wafat dan bangkit.
B
background image
Halaman | 20
Shine edisi Juni 2009
Dalam homilinya, yang disampaikan dalam bahasa Inggris, Fr.
Gerry mengatakan bahwa dalam komunitas masyarakat yang
semakin sekuler sekarang ini,
masa muda merupakan masa
yang labil dalam hal emosi,
pergaulan, dan pembentukan
diri.
Godaan
seks
bebas,
narkoba, sikap atheisme, yang
kerap menyerang kaum muda.
Maka itu iman katolik yang kuat
harus senantiasa menjadi tameng pelindung kita dari serangan
hal-hal tersebut.
Perayaan Ekaristi dilanjutkan
dengan ramah tamah di hall,
dengan
acara
sederhana
makan malam, dan potong kue
ulang tahun dengan suasana
santai dan bersahabat.
Sepekan setelah Youth Mass, ICYO
mengadakan event olahraga 2 hari
ICYO Sportscamp. Event tahunan ini
mengumpulkan
muda-mudi
Katolik
dalam wadah olahraga dan kompetisi
yang sehat. Acara berlangsung dengan
lancar pada tanggal 25-26 April yang
lalu.
Tak
melupakan
kewajiban
merayakan Ekaristi pada hari Minggu,
para peserta Sportscamp bergegas ke
gereja bersama selepas Sportscamp
berakhir.
Acara
minggua
n ICYO Fellowship juga masih
berjalan. Di bulan Mei ini,
fellowship disertai dengan ritual
tambahan yaitu Doa Rosario di
setiap
kesempatannya.
Peserta
yang
hadir
juga
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 13
Yesus telah melaksa-nakan kuasa ilahi-Nya dan berkata,
"Dosamu sudah diampuni" (ay 5). Hal yang sama juga Yesus
lakukan terhadap seorang perempuan yang terkenal sebagai
seorang berdosa. Setelah ia membasahi kaki-Nya dengan air
matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia
mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan rambutnya,
Yesus berkata kepadanya, "Dosamu telah diampuni" (Luk
7:48).
Lebih lanjut, berkat
otoritas
ilahi-Nya,
Yesus
memberi
kuasa
untuk
mengampuni
dosa
kepada
manusia,
yakni para rasul-
Nya, supaya mereka
melaksanakan-nya
atas nama-Nya. Hal
ini
sangat
jelas
dikatakan dalam Injil
Yohanes, dalam kisah mengenai penampakan Yesus kepada
murid-murid-Nya, "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu
mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau
kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada"
(Yoh 20:22-23).
Mengapa Yesus melakukan hal ini? Ia menghendaki agar
"Gereja
secara
kese-luruhan
dalam
doanya,
dalam
kehidupannya dan dalam kegiatannya menjadi tanda dan alat
pengampunan dan perdamaian, yang telah Ia peroleh dengan
harga darah-Nya. Namun, Ia memercayakan pelaksanaan
kuasa absolusi ini kepada jabatan apostolik. Kepadanya
dipercayakan
"pelayanan
perdamaian"
(2
Kor
5:18)"
(Katekismus Gereja Katolik, No. 1442).
Sebab itu, selain memberi kepada para rasul kuasa-Nya untuk
mengampuni dosa, Yesus "juga memberi kepada mereka
otoritas untuk mendamaikan para pendosa dengan Gereja.
Aspek gerejawi dari tugas ini terutama kelihatan dalam
perkataan meriah Kristus kepada Simon Petrus, `Kepadamu
akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga; apa yang kamu ikat di
background image
Halaman | 14
Shine edisi Juni 2009
dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kaulepaskan di
dunia ini akan terlepas di surga' (Mat 16:19). Jelaslah bahwa
`tugas mengikat dan melepaskan, yang diserahkan kepada
Petrus, ternyata diberikan juga kepada Dewan Para Rasul
dalam persekutuan dengan kepalanya'" (KGK, 1444).
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata mengikat dan
melepaskan? "Kata-kata mengikat dan melepaskan bearti:
siapa pun yang akan kamu kucilkan dari persekutuan, maka
Allah pun akan mengucilkannya dari perseku-tuan dengan diri-
Nya; siapa pun yang akan kamu terima kembali dalam
persekutuanmu, maka Allah pun akan menerima-Nya kembali
dalam perseku-tuan dengan diri-Nya. Perdamaian dengan
Gereja tidak dapat dipisahkan dari perdamaian dengan Allah"
(KGK, 1445).
Papan Penyelamatan Kedua
Sebenarnya Yesus sendiri telah menciptakan Sakramen
Perdamaian untuk para anggota Gereja-Nya yang berdosa,
terutama sejak setelah pembaptisan mereka. "Sakramen
Pengakuan memberi kepada mereka kemungkinan baru,
supaya bertobat dan mendapat kembali rahmat pembenaran
(KGK, 1446). Para
Bapa
Gereja
menggambarkan
Sakramen
ini
­
seperti
dikatakan
oleh
Tertulianus,
seorang
Bapa
Gereja ­ sebagai
`papan penyelamat-
an kedua sesudah
kecelakaan
kapal
yakni
kehilangan
rahmat'"
(KGK,
1446).
Dosa telah membuat manusia kehilangan rahmat, yakni
rahmat kemuliaan Allah. Sebab itu Rasul Paulus menegaskan
dalam suratnya, "Semua orang telah berbuat dosa dan telah
kehilangan kemuliaan Allah" (Rom 3:23). Adakah manusia
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 19
Seputar Hari Jadi ICYO
CYO Youth Mass 2009 yang dirangkai dalam perayaan
Ekaristi merupakan sarana berkumpulnya anak-anak muda
dibawah
komunitas
WAICC.
Youth
Mass
tahun
dilangsungkan pada Jumat, 17 April lalu bertempat di St.
Thomas More Church Bateman.
ICYO genap berusia 17 tahun tahun ini. Ya, perjalanan
organisasi muda-mudi Katolik di Perth ini memang sudah
cukup panjang. Di usia muda yang beranjak dewasa, bagi
orang yang berusia 17 tahun, banyak tantangan sekaligus hal
manis yang sudah dirasakan.
Salah satu ujud misa yang
dipersembahkan
adalah
rasa syukur atas usia
ICYO yang sudah berusia
17 tahun.
Perayaan
ekaristi
bertemakan
FAITH
ini
dipersembahkan oleh Fr.
Gerry Conlan, OMI, Fr. John O'Doherty, OMI, serta chaplain
kita sendiri Fr. Ari Pawarto, O.Carm.
I
background image
Halaman | 18
Shine edisi Juni 2009
"Saya datang mengunjungi negara ini sebagai seorang
sahabat bagi orang-orang Israel, seperti halnya saya menjadi
seorang sahabat bagi orang-orang Palestina, dan untuk
menjadi sahabat-sahabat yang mengerti penderitaan satu
sama lain," tegas Bapa Suci. "Sebab itu, jangan lagi ada
pertumpahan darah! Jangan lagi ada pertikaian! Jangan ada
lagi terorisme! Jangan lagi ada perang!" tandasnya.
Pesan pengharapan akan perdamaian juga dinyatakan oleh
Bapa Suci ketika mengunjungi Bethlehem, tempat kelahiran
Yesus.
Shalom
Simon Peres, Presiden
Israel yang juga pernah
menjadi Perdana Menteri
Israel sebanyak dua kali,
memberikan catatan yang
sangat penting sebelum
melepas
perjalanan
pulang Bapa Suci ke
Roma, tanggal 15 Mei
lalu. "Perjalanan ziarah
Benediktus XVI adalah
sebuah contoh mengenai
nilai-nilai spiritual yang
menjadi sebuah kontribusi yang sangat berarti bagi relasi-
relasi baru antara Vatikan dan Yerusalem," kata peraih nobel
perdamaian ini. "Kami sangat menghargai kunjungan Anda,"
imbuh Peres, "saya memahami usaha-usaha Anda untuk
membangun jembatan antara umat dan bangsa-bangsa."
"Engkau datang dalam damai, Engkau pergi dalam damai, dan
kepadamu kami berseru, Shalom," kata Simon Peres (85 th)
pada akhir perjumpaannya dengan pemimpin tertinggi Gereja
Katolik di seluruh dunia ini. Sebuah salam perpisahan yang
sungguh indah. (a2p)
Paus Benediktus dan Presiden
Shimon Peres
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 15
mengalami hidup bahagia selama dirinya ada dalam posisi
kehilangan
kemuliaan
Allah?
Sakramen
Perdamaian
memulihkan dan mengembalikan kemuliaan Allah yang telah
hilang. Banyak kesaksian umat Katolik bahwa Sakramen
Perdamaian yang telah mereka rayakan di ruang pengakuan
telah mengantar mereka kepada pengalaman diperdamaikan
dengan Allah dan Gereja. Hidup batin mereka dipulihkan.
Mereka pun hidup bahagia.
Dosa senantiasa membawa duka, tetapi melalui Sakramen
Perdamaian, yang dirasa adalah nyaman dan aman dalam
kuasa belas kasihan-Nya. Inilah hidup bahagia itu.
Dua Unsur Hakiki
Upacara Sakramen Perdamaian memiliki dua unsur hakiki.
Pertama, pihak kegiatan manusia yang bertibat di bawa kuasa
Roh Kudus, yaitu penyesalan, pengakuan dan penitensi.
Kedua, kegiatan Allah oleh pelayanan Gereja. Di samping itu
Gereja, yang memberi pengam-punan dosa oleh uskup dan
imam-imamnya atas nama Yesus Kristus dan yang me-
nentukan jenis dan cara penitensi, berdoa untuk pendosa dan
menjalan-kan penitensi bersama dengannya. Dengan de-
mikian pendosa disem-buhkan dan diterima kembali ke dalam
perse-kutuan Gereja (lih. KGK, 1448).
Sebab itu, rumusan absolusi sebagai unsur hakiki Sakramen
ini
berbunyi,
"Allah,
Bapa
yang
Mahamurah
telah
mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam wafat dan
kebangkitan Putra-Nya. Ia telah mencurahkan Roh Kudus
demi pengampunan dosa. Dan berkat pelayanan Gereja, Ia
melimpahkan pengampunan dan damai kepada orang yang
bertobat. Maka saya melepaskan saudara demi dosa-dosa
saudara. Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus."
Kemudian si peniten, yang mengaku dosa menjawab, "Amin".
(Rm. Ari, O.Carm)
background image
Halaman | 16
Shine edisi Juni 2009
Kunjungan Paus Benediktus
XVI ke Tanah Suci
anggal 8 ­ 15 Mei lalu, Bapa Suci Paus Benediktus XVI
mengadakan kunjungan ke Tanah Suci, sebagai
kunjungan kepausan ke-12 sejak Paus asal Jerman ini
terpilih sebagai pengganti Paus Yohanes Paulus II, 2005
silam.
Seorang peziarah, pembawa damai dan pengharapan
Kunjungan Paus Benediktus ke Tanah Suci lebih sebagai
sebuah ziarah, demikian juga ketika mengunjungi negara-
negara lain. Ziarah dalam arti luas bukan hanya mengunjungi
tempat-tempat suci bagi umat Kristen dan bertemu dengan
umat Katolik di sana, melainkan juga mengunjungi umat
Yahudi dan Islam serta para pemimpinnya. "Bapa Suci adalah
Paus bagi umat Katolik, tetapi juga seorang paus bagi semua
orang, tanpa pemisahan; seorang teladan untuk diikuti," kata
Fr. Federico Lombardi, direktur kantor berita Vatikan.
Sebagai
se-
orang peziarah,
Bapa
Suci
Benediktus
membawa misi
perdamaian
dan pengharap-
an
baru
di
Tanah
Suci
yang terus di-
landa
konflik.
Oleh karena itu,
dalam berbagai kesempatan Bapa Suci banyak berbicara
mengenai perdamaian. Bapa Suci mengusulkan agar
T
Shine edisi Juni 2009
Halaman | 17
perdamaian bergaung kembali di bidang keagamaan, sosial
dan politik.
Perdamaian menjadi tema pokok yang harus menyusup ke
segala unsur kehidupan masyarakat di Tanah Suci. Maka,
dalam ungkapan yang variatif, perdamaian itu harus
menyentuh: damai antara orang-orang Israel dan Palestina,
damai antara Yahudi, Muslim dan Kristen; damai dalam
Gereja, damai dalam masyarakat dan keluarga, damai antara
Allah, manusia dan ciptaan, damai di hati, di Timur Tengah
dan di dunia.
Bapa Suci memiliki strategi tersendiri untuk mewujudkan misi
perdamaian yang dibawanya dari vatikan, yakni dengan
menempatkan diri sebagai sahabat dan saudara bagi yang
lain. "Kita hidup dari sumber rohani yang sama. Kita bertemu
sebagai saudara, saudara yang dalam sejarah kita memiliki
hubungan yang renggang, tetapi sekarang benar-benar
dilakukan, yakni membangun jembatan persahabatan yang
abadi," kata Paus Benediktus.
Kota Bethlehem