Rayakan Dengan Tidak Merawon!

Misa Perdana WAICC di “rumah baru”, gereja Pater Noster yang bertepatan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah – 1 Januari 2012

Shalom saudara-saudari seiman, saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya pribadi atas misa perdana berbahasa Indonesia di awal tahun yang baru ini.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kini misa berbahasa Indonesia sekarang menempati “rumah baru” di gereja Pater Noster yang beralamat di 460 Marmion Street, Myaree WA 6154 dan diadakan setiap hari Minggu pada jam 17.00.

Misa perdana ini cukuplah “wah” karena bertepatan dengan tahun baru 2012 dan yang membuatnya lebih istime-”wah” adalah karena kita juga merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah.

Misa dipimpin oleh chaplain tersayang kita – Romo Siriakus Ndolu OCarm bersama dengan seorang imam tamu, Romo Paulus Lie OFM, seorang Romo yang masih sangat berjiwa muda :)

Sekarang mari saya ajak anda semua untuk sedikit merenungkan sosok Bunda Maria sebagai Bunda Allah.

Kita sebagai orang Katolik, diajarkan untuk menghormati Bunda Maria karena melaluinyalah Yesus dapat lahir ke dunia untuk menyelamatkan kita. Pada perayaan Santa Maria Bunda Allah, gereja menekankan peran Santa Maria sebagai Bunda Allah yaitu selalu menyertai Yesus ke mana pun Ia pergi mengajarkan Sabda Allah.

Beberapa peristiwa yang menjadi highlights dan memperlihatkan bahwa Yesus menghormati Santa Maria sebagai Bunda, diantaranya adalah peristiwa Yesus mengubah air menjadi anggur pada peristiwa Perkawinan di Kana (bdk Yoh 2:1-11) dan sesaat sebelum Yesus wafat di kayu salib, dimana Ia meninitipkan murid-murid-Nya kepada Santa Maria sebagai ibu dan anak (bdk Yoh 19:26-27).

Pesan yang disampaikan oleh Romo Siri pada homili adalah bahwa kita sebagai orang Katolik harus mengikuti teladan Bunda yang mengadung Yesus. Mengandung Yesus bermakna bahwa kita harus beriman seperti Bunda yang mengenal sosok Yesus, meneladani-Nya, dan selalu menyertai kemanapun Yesus pergi.

“Lalu apa yang harus kita perbuat setelah mengandung Yesus”, tanya Romo Siri.

“Setelah mengandung, tentu kita harus melahirkan Yesus”, lanjut beliau.

Kalimat ini sempat membuat saya tersentak dan mengerenyitkan dahi saya, dan dalam hati saya berpikir “Mana mungkin saya bisa melahirkan, kan saya laki-laki!”

Ternyata oh ternyata, makna dari melahirkan Yesus adalah dengan menunjukkan (atau ‘melahirkan’) kasih kepada sesama seperti kasih yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri.

Lalu Romo Siri menganalogikan perumpamaan mengandung dan melahirkan dengan gosip. Gosip atau membicarakan hal yang tidak-tidak mengenai orang lain itu ibarat rawon (masakan dari Jawa Timur – red), enak namun mungkin, “tidak terlalu sehat” untuk tubuh.

Bagaimana mungkin seorang yang meneladani Yesus, membaca Firman setiap hari namun tindakannya sehari-hari hanyalah bergosip ria, membicarakan hal yang tidak-tidak mengenai sesama?

Lalu Romo melanjutkan dengan perihal tidak sehatnya rawon (gosip) di tubuh (komunitas), gosip itu tidaklah baik dan dapat merusak dan memecah belah komunitas!

Kesimpulan yang dapat ditarik dari perayaan Ekaristi perdana berbahasa Indonesia di tahun 2012 ini adalah, merenungkan dan meneladani Yesus melalui peran Bunda Maria dan hendaklah kita memulai tahun yang baru ini dengan tidak “merawon.”

Akhir kata, semoga dengan menempati “rumah yang baru” di awal tahun baru ini, kita sebagai komunitas Katolik di Western Australia juga memiliki semangat yang baru, mengawali tahun yang baru dengan semakin kompak dan berkembang melalui proses “mengandung dan melahirkan Yesus” dalam diri kita dan sesama.

Joko Wong

  1. William SusenoWilliam Suseno01-19-2012

    Selamat untuk WAICC yang berani melangkah mengambil suatu keputusan. Ini tandanya ia sudah dewasa.

Leave a Reply