Pada tahun 2001, saya merayakan malam Natal di sebuah Stasi pedalaman yang amat terpencil di Paroki Sidikalang, Sumatera Utara. Stasi itu sungguh jauh, saya harus bersepeda motor sekitar dua jam dan lalu kemudian berjalan kaki sekitar 1,5 jam. Setelah misa meriah malam Natal yang berlangsung pukul 6 sore, saya harus bermalam di rumah bapak ketua Stasi karena keesokan harinya saya masih harus pergi ke Stasi lain untuk merayakan Hari Raya Natal. Ya, saya bermalam di rumah bapak ketua Stasi. Dan karena rumahnya kecil, kamar terbatas, maka ia mengungsikan anak gadisnya ke rumah eyangnya dan kamar anak gadisnya itu disiapkan untuk tempat saya bermalam.
Malam itu, di rumah itu, karena keletihan, tidak mudah bagi saya untuk terlelap. Tapi langit malam sungguh sangat cerah, setelah sore harinya hujan mengguyur amat lebat. Setengah duabelas malam, saya mendengar bunyi kracak-krucuk di belakang kamar tempat saya bermalam. Kebetulan rumah bapak ketua Stasi memang di pinggir kampung, dan di belakangnya ada kebun kopi yang luas dan ladang warga masyarakat. “Krak, kruk”, terdengar bunyi itu semakin mendekati belakang kamarku. Saya mulai ketakutan, jangan-jangan harimau Sumatera yang terkenal itu, masuk kampung. Saya bangun dan berdiri di jendela kamar. Saya mengintip keluar. Saya melihat seorang pemuda remaja, sedang mengendap-ngedap ke arah belakang kamarku sambil membawa gitar kecil yang dibuat dari kayu rita. Agak terkejut memang tetapi dengan penuh perhatian saya melihat apa gerangan yang mau dilakukan anak muda itu di tengah malam Natal yang sunyi itu. Ia mendekati jendela kamar, dan mengetuk: Niaty, Niaty. Saya tahu dia menduga di dalam kamar itu ada Niaty, puteri bapak ketua stasi, kekasihnya. Dia tidak mengerti bahwa di dalam kamar itu bukan Niaty, tetapi Siriakus. Karena tidak ada jawaban, ia mengetuk lagi: Niaty, Niaty. Kali inipun tidak ada jawaban juga. Maka ia mengambil gitar buatannya sendiri dan di tengah malam Natal itu ia memainkan gitarnya dan dengan lembut ia berdendang sebuah lagu Natal yang syairnya dia ubah:
“Kasih, dengarkan lagu ini,
Lagu yang mengisahkan cinta kita berdua.
Malam ini, malam yang lama kunantikan.
Malam tatkala kita mau bercinta di belukar kopi”
Perhatikan kata-kata lagu pemuda ini:
“Inilah malam yang kunantikan,
Malam tatkala kita mau bercinta di belukar kopi”.
Malam itu, malam yang sungguh ia nantikan – ia telah membuatkan gitar dari kayu, ia telah menyiapkan syair lagu yang menggugah kekasihnya. Ia telah menantikan malam itu.
Dalam tradisi Yahudi, salah satu malam dari beberapa malam yang sangat dinantikan orang Yahudi, adalah malam tatkala Mesias lahir dalam kegelapan nan sunyi. Itulah malam yang ditunggu – sebuah malam yang suci dan kudus.
Malam inilah malam tatkala Dia, – Allah Yang Mahatingggi dan Agung, – menjelma menjadi manusia yang lemah dan ringkih – menjadi Emmanuel – “Allah yang selalu menyertai kita”. Inilah Malam “Allah menunjukkan belaskasihanNya kepada kita” – menunjukkan belarasa-Nya kepada kita. Inilah malam tatkala Dia datang untuk menabur damai di bumi – damai bagi semua orang yang berkenan kepadaNya. Sungguh, inilah malam yang ditunggu – malam Allah melawat umatNya.
Karena itu, kalau susah hidupmu, kalau usaha bisnismu seret, gajimu tidak naik-naik jua, mau selingkuh tapi selalu gagal, suami yang nakal dan isteri yang amit-amit cerewetnya, anak yang serba bandel, punya kepala desa yang suka makan duit rakyat, tatkala segalanya menjadi sulit dan Allah terasa jauh, ingatlah malam ini waktu Ia datang mengunjungi kita. Ingatlah malam ini, malam pada saat kepada kita diserukan: “Bangunlah, angkatlah mukamu, sebab Penyelamatmu datang” – “Bangkitlah, terangMu datang” – “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar”.
Ya, ingatlah selalu malam ini, karena inilah malam Dia datang membawa harapan, harapan akan masa depan yang lebih baik, sebagaimana dikatakan dengan penuh iman oleh Sta Yuliana dari Norwich, seorang wanita kudus Inggris abad ke-13: “Segalanya akan menjadi lebih baik – segalanya akan menjadi lebih baik karena ia datang! – segalanya menjadi lebih baik – dalam hidupmu, dalam hidupku, dalam hidup kita semua para pengikut Kristus”.
“Semoga malam penuh sukacita ini, ya Tuhan, menjadi malam dimana kami menjadi lebih baik, karena Engkau lahir di dalam hati kami dan mengubah kami, amin!”
*) Catatan: Sapaan kali ini merupakan kotbah untuk Misa Malam Natal yang akan saya rayakan nanti bersama komunitas WAICC di St Benedict Church. Tulisan kotbah ini lebih dahulu saya buat sebagai oleh-oleh bagi anggota komunitas yang akan merayakan natalnya di Indonesia. Selamat Natal dan selamat berakhir tahun.












