Para pembaca Shine yang terkasih, melalui rubrik “Tanya-jawab Dengan Romo” ini Anda dapat menyampaikan pertanyaan-pertanyaan seputar Kitab Suci. Rm. Siriakus Ndolu, O.Carm akan berusaha untuk membantu Anda. Anda juga bisa mengirimkannya langsung pada: siri_akus@yahoo.co.id
Mengapa ketika diciptakan, dikatakan bahwa manusia telanjang tetapi tidak merasa malu (Kej 2:5). Mengapa kemudian mereka malu terhadap Allah? Bukankah Allah melihat segala sesuatu?
Paulus Hadi Sigit, Malang
Pertama, ungkapan ”telanjang tetapi tidak malu” menunjukkan kesucian seksualitas sebagai karunia Allah. ”Telanjang” adalah simbol dari kebebasan untuk berkomunikasi. Untuk dapat mencintai dengan sungguh, manusia harus bebas.
Ungkapan ”telanjang tetapi tidak malu” itu bisa dimengerti dengan lebih baik kalau kita melihat perubahan sesudah manusia jatuh ke dalam dosa. Dikatakan: ”Terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kej 3:7). Mereka menyembunyikan diri dari Allah yang memanggil, karena mereka takut akan Allah (Kej 3:10). Dua akibat dari dosa: mereka menutupi diri mereka, artinya mereka tidak lagi bebas; mereka malu karena telanjang dan mereka takut akan Allah.
”Malu dan takut” tidak hanya terkait dengan ketelanjangan fisik, harafiah, dan tidak merujuk hanya kepada tubuh, tetapi menunjuk dan terkait dengan relasi manusia dengan Allah. Maka, ”telanjang tetapi tidak malu” berarti bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia yang bebas mempunyai relasi akrab dan mudah dengan Allah. Manusia menerima perintah Allah untuk tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Sesudah kejatuhan ke dalam dosa, ”malu dan takut” berarti manusia kehilangan kebebasannya, kehilangan relasi akrab dengan Allah yang adalah Kasih, sumber karunia.
Kedua, melalui tubuhnya manusia menyadari bahwa dia berbeda dari binatang-binatang yang diberinya nama (Kej 2:19-20). Dalam perjumpaannya dengan wanita, manusia menyadari kesamaan antara dirinya dengan wanita, sekaligus perbedaan antara mereka berdua. Dalam perbedaan itu, mereka adalah pribadi-pribadi (maskulin dan feminin) yang diciptakan untuk persatuan cinta satu sama lain seperti Allah mencintai mereka (Kej 2:24). Inilah keadaan asali ketika manusia diciptakan dan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Keadaan rahmat yang dinikmati manusia berarti manusia secara bebas mampu mengarahkan pikiran, perasaan, dan kehendaknya sesuai dengan kehendak Allah.
Sesudah berdosa, kesadaran akan ketelanjangan berarti bahwa manusia menyadari dirinya kehilangan kebebasannya, kehilangan penguasaan dan pengendalian diri. Inilah yang menyebabkan takut. ”Takut” juga berarti bahwa manusia merasa tidak aman berhadapan dengan gejolak alamiah nafsu biologis. Jika sebelumnya manusia bebas karena mampu menguasai gejolak nafsu alamiah itu dan berelasi sebagai pribadi yang saling menerima dan memberi tanpa pamrih dan tanpa reservasi, sesudah berdosa manusia kehilangan kebebasan. Dosa mempengaruhi tubuhnya, sehingga tubuhnya cenderung melihat tubuh yang lain sebagai objek seks untuk digunakan dan dimanfaatkan. Singkat kata, sesudah berdosa, manusia menyadari ketegangan antara gejolak nafsunya dan apa yang seharusnya mereka lakukan, yaitu saling mencintai secara tulus. Di sinilah muncul kegelisahan hati nurani, yaitu ”takut” kehilangan satu sama lain.
Ketiga, kehilangan pengendalian dan penguasaan diri inilah yang menyebabkan manusia ”malu” di hadapan Allah. Sesudah berdosa, kemampuan manusia untuk mengungkapkan cinta yang otentik dalam dan melalui tubuh telah dikacaukan. Manusia memandang lawan jenisnya hanya sebagai sasaran seksual atau objek mendapatkan kepuasan seksual. Karena itu, masing-masing tidak bisa lagi saling mengapresiasi tubuh lawan jenis secara murni seperti yang dikehendaki Allah. Bahkan, perbedaan seksual kini menjadi penghalang dalam relasi antara pria dan wanita.
Di sinilah kita diajak menyadari arti penting dari kematian dan kebangkitan Kristus, yaitu merestorasi makna keberadaan insani dan makna tubuh insani. Kristus mengembalikan apa yang ada sejak awal mula dan mengarahkan kita ke masa depan, yaitu pada pemenuhannya. Dalam dan melalui Kristus, kita dimampukan memandang hidup insani kita, relasi kita dan hidup kita dalam perspektif yang sama sekali baru dan positif.
Dr Petrus Maria Handoko CM












